Konveyor Dodo Rinti–Batu Hijau: Antara Efisiensi Tambang dan Masa Depan Ruang Hidup Sumbawa
Oleh: Uky Kifli
(Sekertaris Alumni Universitas Indonesia NTB)
Sumbawa (11/1) — Rencana pembangunan konveyor Dodo Rinti–Batu Hijau oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) patut dicermati secara lebih mendalam. Proyek ini memang digadang-gadang sebagai solusi efisiensi logistik pertambangan. Namun di balik narasi teknis tersebut, terdapat persoalan mendasar yang menyangkut keberlanjutan lingkungan dan masa depan masyarakat Sumbawa.
Bagi perusahaan, konveyor efisien secara bisnis, namun bagi warga di jalurnya, proyek ini memunculkan kekhawatiran serius yang harus dijawab terbuka.
Sebagai warga yang hidup di kawasan terdampak, saya memandang isu ini tidak hanya sebagai persoalan investasi, tetapi juga sebagai bagian dari tata kelola sumber daya alam. Pembangunan yang baik seharusnya menempatkan keseimbangan antara kepentingan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan keberlanjutan sosial masyarakat.

Konveyor yang melintas di wilayah desa berpotensi membatasi akses ruang, mengubah bentang alam, serta memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat. Ruang hidup masyarakat desa tidak hanya berupa lahan, tetapi juga mencakup jalur mobilitas, sumber penghidupan, dan hubungan sosial yang telah terbangun secara turun-temurun.
“Pertanyaan utamanya, setelah sumber daya Sumbawa diambil, apakah daerah ini mewarisi kesejahteraan berkelanjutan atau justru kerusakan dan ketimpangan sosial?”
Pemerintah daerah memiliki peran strategis untuk memastikan bahwa setiap proyek besar berjalan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Dialog yang transparan dan partisipatif dengan masyarakat terdampak harus menjadi bagian utama, bukan sekadar formalitas. Demikian pula, perusahaan perlu menunjukkan komitmen nyata dalam melindungi lingkungan serta memberdayakan masyarakat lokal secara berkelanjutan.
Pembangunan sumber daya alam bukan soal efisiensi angkut tambang, melainkan seberapa besar manfaat nyata kembali ke daerah dan masyarakat.
Dengan pendekatan yang adil dan berimbang, pembangunan tambang di Sumbawa diharapkan benar-benar menjadi berkah, bukan beban, bagi generasi hari ini dan yang akan datang.
