Refleksi Akademik: Menyikapi Dinamika Ekspresi Mahasiswa di Lingkungan Kampus
Abah Muazar Habibi
Dosen Universitas Mataram dan mantan Aktivis 98.
MATARAM (9/4) – Membaca sebuah judul berita atau judul film tanpa memahami esensi di dalamnya sering kali menggiring kita pada penghakiman prematur. Sebagai bagian dari keluarga besar akademika dan praktisi psikologi yang menaruh perhatian pada dinamika kemahasiswaan, saya merasa perlu memberikan perspektif yang jernih agar peristiwa yang terjadi baru-baru ini dapat kita maknai sebagai pembelajaran bersama.
Setelah menghimpun informasi melalui proses tabayun dengan pimpinan universitas yaitu ke WR 3 Universitas Mataram, serta berdiskusi dengan rekan-rekan dosen dan aktivis, saya melihat ada beberapa poin krusial yang perlu kita renungkan:
1. Kampus sebagai Ruang Dialektika yang Persuasif
Kampus sejatinya adalah oase kebebasan akademik. Setiap ekspresi keilmuan harus mendapatkan ruang selama koridornya jelas. Dalam menghadapi kegiatan mahasiswa yang dianggap sensitif, pendekatan represif atau pengerahan keamanan bukanlah pilihan utama.
Idealnya, pemimpin perguruan tinggi mengedepankan argumentasi ilmiah. Jika sebuah karya dianggap provokatif, maka cara terbaik untuk membedahnya adalah melalui diskusi terbuka yang bersifat persuasif, bukan pembubaran yang justru berisiko menimbulkan kegaduhan baru. Pemimpin yang memahami isi dan alur dari apa yang dikritisi akan mampu berdialog secara elegan dengan mahasiswa.
2. Pentingnya Prosedur dan Etika Penyelenggaraan
Di sisi lain, institusi kampus memiliki tanggung jawab moral dan administratif untuk menjaga stabilitas serta ketertiban lingkungan. Langkah preventif pimpinan universitas bukanlah tanpa alasan. Persoalan sering kali muncul bukan pada substansi acaranya, melainkan pada pengabaian prosedur, seperti izin keramaian dan pemilihan waktu pelaksanaan.
Akan sangat bermutu dan elegan apabila rekan-rekan mahasiswa mengemas kegiatan tersebut dalam format kajian ilmiah—misalnya dengan tajuk “Tinjauan Yuridis dan Sosiologis Film X”—diselenggarakan di auditorium, serta menghadirkan pakar sebagai pembedah. Dengan pendekatan yang terstruktur, nilai akademiknya akan jauh lebih menonjol daripada sekadar kerumunan yang rentan dipolitisasi.
3. Jembatan Psikologis antara Birokrasi dan Aktivis
Sering kali terjadi diskoneksi antara cara berpikir aktivis yang dinamis dengan pola kebijakan birokrasi yang administratif. Di sinilah pendekatan psikologis menjadi kunci. Pihak kampus perlu memahami karakter aktivis, sementara aktivis perlu memahami tanggung jawab pimpinan.
Solusi terbaik adalah fasilitasi. Alih-alih membubarkan, pimpinan bisa mengarahkan: “Karena prosedur belum terpenuhi, mari kita agendakan ulang secara resmi. Kami akan fasilitasi auditorium dan narasumber ahli agar diskusinya lebih mendalam.” Ruang dialog seperti ini akan menutup celah prasangka negatif dari kedua belah pihak.
Pelajaran Berharga untuk Kita Semua:
1. Semangat Iqra’ (Literasi): Sebagaimana perintah pertama dalam Islam, kita diwajibkan untuk “membaca” situasi secara utuh. Jangan bertindak sebelum memahami duduk perkara secara komprehensif agar tidak terjebak dalam penghakiman atas simbol atau judul semata.
2. Intelektualitas Aktivis: Saatnya mahasiswa bergerak melampaui keinginan untuk sekadar “tampil beda” atau viral. Kedepankan sikap akademik dan kedalaman analisis dalam setiap aksi.
3. Kepemimpinan yang Empatik: Pimpinan kemahasiswaan (WR III/WD III) idealnya memiliki kepekaan terhadap psikologi massa dan latar belakang aktivisme, sehingga mampu mengubah potensi konflik menjadi forum edukasi yang bermartabat.
Semoga peristiwa ini menjadi titik balik bagi kita untuk memperkuat silaturahmi dan tradisi intelektual di kampus yang kita cintai.
