Uncategorized

EKONOMI SIRKULAR BUKAN SEKADAR WACANA: HITUNGAN PASTI MENYELAMATKAN NTB DARI DARURAT SAMPAH

292 kali dibaca

Oleh: HAERUL ANWAR, Pemerhati Lingkungan, Nusa Tenggara Barat

Permasalahan Sampah di Nusa Tenggara Barat

Permasalahan sampah di Nusa Tenggara Barat saat ini tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan kebersihan semata, melainkan telah berkembang menjadi ancaman lingkungan, sosial, dan ekonomi yang serius. Volume sampah yang terus meningkat setiap hari memperlihatkan bahwa pola konsumsi masyarakat dan sistem pengelolaan yang ada belum berjalan secara seimbang. Sebagian besar sampah masih berakhir di lingkungan tanpa pengolahan yang memadai, mencemari sungai, pesisir, hingga kawasan wisata yang selama ini menjadi kebanggaan daerah.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sistem ekonomi linier yang hanya berorientasi pada “ambil, pakai, lalu buang” sudah tidak lagi relevan untuk dipertahankan. Sampah yang selama ini dianggap sebagai limbah sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi yang besar apabila dikelola melalui pendekatan ekonomi sirkular. Dalam konsep ini, sampah tidak dipandang sebagai akhir dari konsumsi, tetapi sebagai sumber daya yang dapat diproses kembali menjadi produk bernilai guna.

Hitungan Kasar: Kerugian dari Sampah yang Dibuang

Sampah anorganik seperti plastik, kertas, logam, dan kaca sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Namun, karena rendahnya sistem pemilahan dan pengelolaan, sebagian besar material tersebut justru terbuang percuma dan menjadi beban lingkungan. Padahal, jika dikelola secara optimal melalui proses daur ulang, sampah mampu menghasilkan nilai ekonomi yang tidak sedikit sekaligus mengurangi tekanan terhadap tempat pemrosesan akhir yang saat ini semakin overcapacity.

Hitungan Nyata: Sampah yang Diolah Memberikan Nilai Ekonomi Lebih Tinggi

Selama ini sebagian besar sampah di NTB dijual dalam kondisi mentah tanpa proses pengolahan. Padahal, nilai ekonominya meningkat cukup besar setelah melalui proses pemilahan, pencacahan, pencucian, dan pembentukan ulang menjadi produk daur ulang. Plastik campuran yang sebelumnya hanya dihargai sekitar Rp1.500 per kilogram di tingkat pengepul dapat meningkat menjadi Rp4.000-Rp6.000 per kilogram setelah dicacah dan dibersihkan. Bahkan, ketika diolah menjadi produk jadi seperti gantungan kunci, tatakan gelas, pot tanaman, atau amenities hotel, nilai jualnya dapat meningkat hingga Rp20.000-Rp50.000 per produk tergantung kualitas dan desain.

Sebagai ilustrasi sederhana, satu unit usaha pengolahan sampah plastik skala kecil di Lombok Tengah mampu mengolah sekitar 1 ton sampah plastik per hari. Dalam kondisi belum diolah, sampah tersebut hanya memiliki nilai jual sekitar Rp1,5 juta per ton. Namun setelah dicacah dan dibersihkan, nilai jualnya meningkat menjadi sekitar Rp4,5 juta per ton. Artinya, terdapat peningkatan nilai ekonomi sekitar Rp3 juta per hari hanya dari proses pengolahan awal. Jika dikembangkan menjadi produk kreatif berbasis ekonomi sirkular, keuntungan yang diperoleh masyarakat bisa meningkat jauh lebih besar. Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan sampah bukan hanya tentang pencemaran lingkungan, tetapi juga tentang hilangnya peluang ekonomi masyarakat. Ketika sampah dibuang tanpa pengolahan, daerah kehilangan potensi pendapatan, lapangan kerja, dan peluang usaha berbasis lingkungan yang sebenarnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

(Data harga plastik daur ulang mengacu pada kisaran harga pengepul dan industri daur ulang Jawa Timur, NTB tahun 2024-2025; KLHK, 2024).

Keterangan: TPA Kebon Kongok yang sudah sejak 1993 beroperasi, kini hanya mampu menangani 12,78% dari total sampah NTB. Sisanya mencemari lingkungan.

“Gunungan sampah di TPA Kebon Kongok terlihat seperti bukit buatan manusia yang tumbuh dari kebiasaan membuang tanpa berpikir untuk mengelola. Di balik asap, bau menyengat, dan tumpukan plastik yang tak berujung, tersimpan ironi tentang pembangunan yang gagal berdamai dengan lingkungannya sendiri. Sampah yang seharusnya masih memiliki nilai ekonomi justru berubah menjadi beban yang perlahan menggerogoti tanah, air, dan masa depan masyarakat.”

Keterangan: Lebih dari 300 unit pengumpul di Mandalika berhasil mencegah 1.497 ton emisi GRK dan meningkatkan pendapatan mitra hingga 30%.

Studi Kasus Nyata: Bukan Mimpi, Tetapi Sudah Terjadi

Penerapan ekonomi sirkular sebenarnya bukan konsep yang jauh dari kenyataan. Di beberapa wilayah NTB, praktik pengelolaan sampah berbasis ekonomi sudah mulai menunjukkan hasil positif. Bank Sampah Bintang Sejahtera di kawasan Mandalika misalnya, berhasil membuktikan bahwa sampah plastik yang sebelumnya mencemari lingkungan dapat diubah menjadi sumber pendapatan masyarakat sekaligus membantu mengurangi emisi gas rumah kaca. Sampah yang telah dipilah dan dijual kembali mampu memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat sekitar, sekaligus menekan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Selain itu, kelompok usaha Lombok Eco Kriya di Desa Bonder, Lombok Tengah, mulai mengembangkan produk berbahan dasar sampah plastik daur ulang menjadi berbagai kebutuhan sektor pariwisata seperti tatakan gelas, gantungan kunci, hingga amenities hotel. Produk-produk tersebut memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibanding plastik mentah sebelum diolah. Plastik bekas yang sebelumnya hanya dihargai sekitar Rp1.500 per kilogram dapat meningkat nilainya menjadi Rp4.000-Rp6.000 per kilogram setelah dicacah dan dibersihkan. Bahkan setelah diolah menjadi produk kreatif siap pakai, nilainya dapat meningkat berkali-kali lipat tergantung kualitas dan desain produk. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang tepat tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga mampu membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan ekonomi masyarakat lokal.

Di sisi lain, Unit Black Soldier Fly (BSF) Lingsar memperlihatkan bagaimana sampah organik dapat diubah menjadi sumber ekonomi baru melalui budidaya maggot dan pengomposan. Sampah organik yang sebelumnya tidak bernilai kini dimanfaatkan menjadi pakan ternak dan pupuk organik yang memiliki nilai jual. Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa sampah sebenarnya dapat menjadi sumber daya apabila dikelola dengan pendekatan yang berkelanjutan.

Dalam skala usaha kecil, biaya operasional pengolahan sampah plastik diperkirakan berkisar Rp12-Rp18 juta per bulan yang mencakup biaya tenaga kerja, listrik, transportasi, dan perawatan alat. Namun, hasil penjualan produk daur ulang mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp30-Rp45 juta per bulan sehingga keuntungan bersih yang diperoleh dapat mencapai 40-55 persen. Persentase keuntungan tersebut menunjukkan bahwa nilai jual sampah setelah diolah jauh lebih tinggi dibanding ketika dijual dalam kondisi mentah. Hal ini menjadi bukti bahwa ekonomi sirkular mampu memberikan manfaat ekonomi yang nyata sekaligus mengurangi beban lingkungan.

Untuk membangun unit pengolahan sampah sederhana, kebutuhan investasi awal berkisar Rp80-Rp150 juta yang digunakan untuk pengadaan mesin pencacah, tempat pengolahan, bak pencucian, dan peralatan pendukung lainnya. Dengan keuntungan tersebut, modal usaha diperkirakan dapat kembali dalam waktu kurang dari satu tahun.

(Estimasi biaya investasi dan operasional mengacu pada praktik usaha pengolahan sampah plastik skala kecil-menengah di NTB tahun 2024-2025).

Keterangan: Produk daur ulap bernilai ekspor yang sudah dipasok ke jaringan hotel di Mandalika.

“Produk-produk daur ulang yang tampak sederhana ini sesungguhnya menyimpan cerita besar tentang harapan. Di tangan masyarakat yang kreatif, sampah plastik yang sebelumnya mencemari pantai dan sungai berubah menjadi barang bernilai ekonomi. Foto ini seperti menyindir cara lama kita memperlakukan sampah: sesuatu yang dibuang ternyata justru mampu menghidupi.”

Mengapa Ekonomi Linear Gagal?

Selama ini, pengelolaan sampah di NTB masih didominasi pendekatan linear, yaitu pola konsumsi yang berakhir pada pembuangan. Sistem ini menyebabkan volume sampah terus meningkat sementara kapasitas pengelolaan lingkungan semakin terbatas. Tempat pemrosesan akhir dipaksa menampung sampah dalam jumlah besar tanpa diimbangi pengurangan dari sumbernya.

Akibatnya, pemerintah terus mengeluarkan biaya besar hanya untuk mengangkut dan menumpuk sampah tanpa menghasilkan nilai tambah yang berarti. Situasi ini menunjukkan bahwa pola pengelolaan lama tidak lagi efektif dan justru memperbesar kerugian lingkungan maupun ekonomi daerah. Karena itu, pendekatan ekonomi sirkular perlu diterapkan secara lebih serius agar sampah dapat kembali masuk ke dalam rantai produksi sebagai sumber daya yang bermanfaat.

Tiga Langkah Wajib Pemerintah

Penerapan ekonomi sirkular membutuhkan keberanian pemerintah dalam membuat kebijakan yang lebih tegas dan terukur. Pemilahan sampah sejak dari sumber perlu menjadi kewajiban bagi rumah tangga, kawasan wisata, pasar, dan pelaku usaha agar proses daur ulang berjalan lebih efektif dan optimal. Selain mendukung pengelolaan lingkungan, langkah ini juga dapat mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Di sisi lain, industri pariwisata perlu didorong untuk menggunakan produk berbahan daur ulang lokal sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan sekaligus upaya memperkuat perekonomian masyarakat setempat

Pemerintah juga perlu mengubah orientasi pengelolaan sampah dari sekadar menumpuk di TPA menjadi penguatan sistem pengurangan dan pengolahan sampah berbasis masyarakat. Dukungan terhadap bank sampah, TPS3R, pengolahan organik, serta inovasi waste-to-energy perlu diperluas agar sampah dapat diolah sedekat mungkin dari sumbernya. Dengan langkah tersebut, volume sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan secara signifikan.

Hitungan Akhir: Manfaat Ekonomi Sirkular

Penerapan ekonomi sirkular di NTB memiliki potensi memberikan manfaat yang sangat besar, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan. Pengelolaan sampah yang baik dapat menciptakan sumber pendapatan baru, mengurangi biaya pengelolaan sampah pemerintah, membuka lapangan pekerjaan, serta meningkatkan kualitas lingkungan kawasan wisata. Lingkungan yang lebih bersih juga akan berdampak positif terhadap citra pariwisata daerah dan kenyamanan masyarakat.

Jika pengolahan sampah berbasis ekonomi sirkular diterapkan secara lebih luas di NTB, maka potensi pengurangan sampah yang masuk ke TPA dapat meningkat secara signifikan. Selain mengurangi biaya operasional pengangkutan dan penumpukan sampah, sistem ini juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru di sektor pemilahan, pengolahan, dan industri kreatif berbasis daur ulang. Dalam jangka panjang, manfaat ekonomi yang dihasilkan diperkirakan jauh lebih besar dibanding biaya pengelolaan sampah konvensional yang hanya berorientasi pada pembuangan akhir.

Lebih dari itu, ekonomi sirkular mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Sampah tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

Penutup

Permasalahan sampah di NTB saat ini sudah berada pada tahap yang tidak dapat diabaikan lagi. Tumpukan sampah yang terus meningkat menunjukkan bahwa sistem pengelolaan lama tidak lagi mampu menjawab tantangan lingkungan masa kini. Karena itu, penerapan ekonomi sirkular harus dipandang sebagai kebutuhan mendesak, bukan sekadar wacana pembangunan.

Melalui pengelolaan yang tepat, sampah dapat berubah dari sumber pencemaran menjadi sumber manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat. Masa depan NTB tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan daerah dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Ketika sampah mampu dikelola dengan bijak, maka lingkungan yang bersih, ekonomi yang kuat, dan masyarakat yang sejahtera bukan lagi sekadar harapan, melainkan sesuatu yang dapat diwujudkan bersama..

NTB tidak akan maju dengan sampah yang menggunung. NTB akan bangkit ketika sampah berubah menjadi berkah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *