Pendidikan

KECERDASAN BUATAN (AI) Tidak Akan Mampu Menggantikan Ikatan Emosional dalam Bercerita

30 kali dibaca

LOMBOK BARAT(26/5) Pendongeng nasional, Kak Danang, menilai metode bercerita secara langsung tetap memiliki peran penting dalam proses pembelajaran anak. Menurutnya, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak dapat menggantikan peran manusia dalam membangun kedekatan emosional.

Pernyataan tersebut disampaikan Kak Danang usai memberikan pelatihan mendongeng kepada ratusan guru di Lombok Barat pada akhir pekan lalu.

Bercerita Memiliki Nilai Emosional

Kak Danang menjelaskan bahwa manusia memiliki unsur emosional dan ikatan batin yang tidak dimiliki kecerdasan buatan. Oleh sebab itu, metode bercerita secara langsung dinilai tetap relevan dalam dunia pendidikan.

“Sampai kapan pun, bercerita tidak akan pernah hilang meskipun teknologi AI terus berkembang,” ujarnya.

Selain itu, ia mengatakan bahwa cerita yang disampaikan secara langsung mampu menghadirkan ekspresi, intonasi suara, dan kedekatan dengan audiens. Dengan demikian, pesan yang diberikan akan lebih mudah dipahami oleh anak-anak.

Menurutnya, kecerdasan buatan hanya mampu menyampaikan informasi secara teknis. Sementara itu, manusia dapat menyampaikan pesan dengan empati dan perasaan.

“AI tidak memiliki hati, sedangkan manusia memiliki hati. Di situlah letak perbedaannya,” tegasnya.

Metode Bercerita Dinilai Lebih Efektif

Kak Danang menilai keterlibatan emosi dalam kegiatan bercerita mampu menciptakan hubungan yang lebih dekat antara orang tua dan anak maupun guru dan murid. Oleh karena itu, proses pembelajaran dinilai menjadi lebih efektif dan berkesan.

Ia menjelaskan bahwa cerita yang disampaikan dengan sepenuh hati akan memberikan dampak yang berbeda dibandingkan penyampaian melalui teknologi digital. Bahkan, metode tersebut dinilai lebih mudah membangun perhatian dan kedekatan dengan anak.

“Ketika manusia menyampaikan cerita dengan sepenuh hati, hasilnya tentu berbeda dibandingkan AI,” katanya.

Selain membantu menyampaikan pesan, metode bercerita juga dinilai mampu meningkatkan fokus murid saat mengikuti pembelajaran di kelas. Di sisi lain, penggunaan teknologi secara berlebihan dapat mengurangi interaksi langsung antara guru dan murid.

Menurut Kak Danang, manusia pada dasarnya menyukai cerita sebagai bagian dari interaksi sosial. Karena itu, kegiatan mendongeng dinilai tetap relevan di tengah perkembangan teknologi digital.

AI Tidak Mampu Menggantikan Ikatan Batin

Lebih lanjut, Kak Danang menegaskan bahwa aktivitas bercerita bukan sekadar hiburan. Akan tetapi, kegiatan tersebut juga menjadi sarana membangun kedekatan emosional serta menanamkan nilai kehidupan kepada anak.

Ia menilai ikatan batin yang tercipta dalam kegiatan bercerita merupakan kekuatan utama manusia yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Dengan demikian, keberadaan AI hanya dapat menjadi alat pendukung, bukan pengganti interaksi manusia.

“Ada ikatan batin yang tercipta ketika seseorang bercerita. Hal tersebut tidak akan pernah hilang dan menjadi kekuatan utama manusia dibandingkan AI,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *