Kereta Gantung Rinjani dan Dinamika Budaya Suku Sasak: Antara Janji Investasi dan Realitas Sosial Budaya
Oleh: Haerul Anwar – Pemerhati Lingkungan NTB
Pembangunan Tidak Selalu Bisa Diukur dari Investasi
Isu pembangunan sering kali diperdebatkan dalam satu ukuran yang sama: angka investasi. Namun, tidak semua hal dapat dinilai dengan kalkulasi ekonomi semata, terutama ketika yang dipertaruhkan adalah ruang hidup, ekologi, dan identitas budaya. Dalam konteks itu, rencana pembangunan kereta gantung di kawasan Gunung Rinjani kembali memunculkan pertanyaan mendasar tentang batas antara pembangunan dan keberlanjutan.
Penolakan terhadap Kereta Gantung Rinjani
Ketika Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal secara resmi menolak investasi pembangunan kereta gantung senilai Rp 6,7 triliun di kawasan Rinjani, saya berdiri di pihak yang mendukung keputusan itu sepenuhnya, bukan dengan syarat, bukan setengah hati. Bukan karena saya menolak pembangunan. Tetapi karena saya percaya bahwa ada hal-hal yang nilainya jauh melampaui angka investasi, dan salah satunya adalah Gunung Rinjani beserta seluruh peradaban budaya Sasak yang hidup di sekelilingnya.
Status UNESCO dan Risiko Kehilangan Pengakuan Dunia
Argumen ini semakin menguat ketika kita menempatkan Rinjani dalam konteks pengakuan dunia. Rinjani saat ini berstatus UNESCO Global Geopark, sebuah predikat bergengsi yang tidak datang dengan mudah dan tidak pula bertahan tanpa komitmen. Status tersebut dipertahankan melalui mekanisme revalidasi berkala oleh UNESCO, di mana salah satu kriteria utamanya adalah kelestarian ekosistem, integritas lanskap, serta pelestarian warisan budaya masyarakat lokal. Kehadiran konstruksi masif seperti kereta gantung berisiko besar mengancam kelayakan Rinjani untuk mempertahankan Green Card UNESCO, sebuah kehilangan yang dampaknya justru akan jauh lebih besar bagi pariwisata NTB dibanding keuntungan jangka pendek dari satu proyek infrastruktur.
Suara Petani dan Ketergantungan pada Air Rinjani
Pandangan ini juga diperkuat oleh hasil wawancara dengan petani di wilayah Batukliang yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dan ketersediaan air dari kawasan hulu Rinjani. Mereka menegaskan bahwa keberadaan hutan di kawasan tersebut bukan sekadar elemen ekologis, melainkan penopang utama kehidupan sehari-hari. Salah satu petani menyampaikan: “Kalau hutan di atas itu sampai dibuka atau diganggu, kami di bawah pasti langsung terasa dampaknya, terutama air yang biasanya mengalir ke sawah dan kebun bisa berkurang, bahkan di musim kemarau bisa benar-benar kering, padahal kami sangat bergantung pada air itu untuk tanam padi dan sayur, jadi bagi kami hutan Rinjani itu bukan cuma hutan, tapi sumber hidup,” ungkap Pak Rohman, petani di Aik Berik, 11-05-1016.
Pernyataan ini menggambarkan secara langsung keterkaitan antara kondisi ekologis di kawasan hulu dengan keberlanjutan pertanian di wilayah hilir. Para petani juga menilai bahwa intervensi pembangunan berskala besar di kawasan Rinjani berpotensi mempercepat perubahan tutupan lahan yang pada akhirnya berdampak pada terganggunya siklus air, meningkatnya risiko kekeringan di musim kemarau, serta erosi dan banjir pada musim hujan akibat menurunnya daya serap kawasan hutan.
Rinjani dalam Kehidupan Budaya Sasak
Untuk memahami mengapa penolakan ini bukan sekadar romantisme, kita perlu memahami bagaimana budaya Sasak hidup dalam kaitannya dengan Rinjani. Ambil contoh upacara begawe, hajatan besar masyarakat Sasak yang mencakup pernikahan, khitanan, hingga ritual syukuran. Dalam tradisi begawe, prosesi dilakukan dengan menyertakan doa-doa yang diarahkan ke penjuru gunung sebagai pusat kosmologis kehidupan.
Tidak jauh berbeda, tradisi nyongkolan, iring-iringan pengantin Sasak yang berjalan mengelilingi kampung dengan iringan musik gendang beleq, mensyaratkan ketenangan dan kekhidmatan suasana sekitar. Sementara upacara begawah, yakni ritual penyambutan tamu agung dalam konteks adat Sasak, sarat dengan simbolisme yang mengharuskan keselarasan antara manusia, alam, dan leluhur. Semua tradisi ini akan terganggu bukan secara metaforis, tetapi secara konkret oleh kebisingan mesin, keramaian wisatawan massal, dan perubahan lanskap yang dibawa oleh infrastruktur modern.
Rinjani sebagai Ruang Spiritual Masyarakat Lokal
Lebih dari sekadar adat, masyarakat Sasak, khususnya penganut kepercayaan Wetu Telu, meyakini bahwa Rinjani adalah tempat bersemayamnya roh leluhur dan entitas spiritual yang mereka sebut Dewi Anjani atau dalam narasi lokal dikenal pula sebagai figur “Putri Rinjani”, penjaga gunung yang dihormati secara turun-temurun. Setiap pendakian ritual, setiap doa yang dikirimkan ke puncak, merupakan komunikasi spiritual yang nyata bagi masyarakat ini.
Membangun infrastruktur komersial di atas kawasan ini, apalagi kereta gantung yang bising dan masif, sama artinya dengan meletakkan mal di atas tanah kuburan leluhur. Ini bukan hiperbola. Ini adalah perspektif yang perlu dipahami oleh siapa pun yang bicara soal pembangunan Rinjani.
Norma Ketinggian dalam Filsafat Ruang Sasak
Hal lain yang sering luput dari diskusi pembangunan adalah norma ketinggian dalam filsafat ruang Sasak. Dalam tradisi arsitektur dan tata ruang Sasak, semakin tinggi sebuah bangunan, semakin besar kewajiban spiritualnya. Tidak ada bangunan yang boleh “memandang ke bawah” terhadap ruang sakral. Filosofi ini mengatur tata letak rumah adat, berugak, dan tempat ibadah.
Kereta gantung yang bergerak di atas kepala para peziarah dan pendaki ritual secara harfiah melanggar prinsip ini, sebuah pelanggaran yang bagi masyarakat Sasak bukan sekadar estetika, melainkan persoalan ketertiban kosmik. Bahkan dalam bahasa Sasak, gagasan kereta gantung ini terasa asing secara konseptual. Jika dipaksakan diterjemahkan, ia mungkin akan disebut montok betali atas kayu gawah, “kotak tergantung di atas tali di atas pohon tinggi”, sebuah frasa yang terdengar absurd sekaligus mengancam dalam imajinasi budaya lokal.
Ancaman Komodifikasi Budaya
Dimensi seni pun tak bisa diabaikan. Seni Sasak, baik peresean sebagai seni bela diri ritual, gendang beleq sebagai musik gendang besar, maupun kerajinan tenun songket, tumbuh dalam ekosistem budaya yang tenang, autentik, dan berakar pada alam. Seni-seni ini bukan sekadar atraksi. Mereka adalah bahasa identitas.
Ketika kawasan Rinjani berubah menjadi koridor wisata massal dengan arus pengunjung ribuan orang per hari melalui kereta gantung, seni dan tradisi lokal berisiko berubah menjadi komoditas pertunjukan untuk difoto, bukan ritual untuk dihayati. Itulah yang oleh para antropolog budaya disebut sebagai cultural commodification, yaitu proses ketika budaya kehilangan makna internalnya demi memenuhi selera pasar.
Rinjani sebagai Menara Air Lombok
Di luar dimensi budaya, argumen ekologis juga tak kalah mendesak. Rinjani adalah menara air bagi Lombok. Hutan-hutan di kawasannya menjaga siklus hidrologi yang menopang pertanian, air minum, dan ketahanan lingkungan bagi jutaan warga. Pembangunan infrastruktur skala besar dengan segala konsekuensinya, mulai dari pembukaan lahan, peningkatan arus manusia, limbah, hingga tekanan terhadap habitat, merupakan risiko yang tidak proporsional dibanding manfaat ekonomi yang dijanjikan. Apalagi ketika manfaat tersebut cenderung dinikmati oleh investor dan pengusaha besar, bukan masyarakat lokal sekitar kawasan.
Pembangunan yang Membaca Konteks Lokal
Saya tidak sedang mengajak berdiri pada posisi anti-pembangunan. NTB membutuhkan pertumbuhan ekonomi, dan pariwisata adalah salah satu motornya. Tetapi pembangunan yang baik bukan pembangunan yang hanya menghitung angka. Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang mampu membaca konteks ekologi, budaya, dan identitas lokal sebagai modal, bukan hambatan.
Lombok memiliki kekuatan yang jarang dimiliki destinasi lain: alam yang utuh, budaya yang hidup, dan masyarakat yang masih memiliki hubungan organik dengan lingkungannya. Kekuatan itu jauh lebih berharga jika dijaga daripada dijual murah demi proyek yang belum tentu memberi dampak nyata bagi warga.
Mendengar Suara yang Paling Dekat dengan Rinjani
Papuk di Sesaot itu tidak berbicara tentang kebijakan investasi. Ia berbicara tentang kekhusyukan, tentang hak untuk naik ke gunung leluhurnya tanpa gangguan. Kalimatnya pendek, tetapi bobotnya jauh melebihi ribuan halaman studi kelayakan. Dan di sinilah letak masalah terbesar dari diskusi soal kereta gantung selama ini: kita terlalu banyak menghitung potensi keuntungan, tetapi terlalu sedikit mendengar suara mereka yang paling tahu nilai sesungguhnya dari Rinjani.
RINJANI BUKAN PROYEK, RINJANI ADALAH PERADABAN, DAN PERADABAN TIDAK DIJUAL DENGAN HARGA RP 6,7 TRILIUN
Catatan: Kutipan langsung dari tetua adat (papuk) di Desa Sesaot merupakan hasil wawancara lapangan yang dilakukan penulis. Nama narasumber dirahasiakan atas permintaan yang bersangkutan.
