AMAN NTB Dukung Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto: Warisan Pembangunan dan Semangat Kebangsaan
Mataram, 9 November 2025 — Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi mendeklarasikan dukungan penuh terhadap pemberian gelar Pahlawan Nasional untuk Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, dalam kegiatan diskusi publik dan deklarasi nasional bertajuk “Mendukung Pemberian Gelar Pahlawan untuk Soeharto” yang digelar di Café Upnormal, Mataram, Sabtu (8/11).
Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan nasional AMAN yang serentak dilaksanakan di berbagai provinsi di Indonesia. Melalui deklarasi tersebut, para mahasiswa ingin menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menghargai jasa tokoh bangsa, termasuk sosok Presiden Soeharto yang dinilai berperan besar dalam pembangunan dan stabilitas nasional.
Deklarasi Serentak Simbol Semangat Persatuan
Koordinator AMAN NTB, Hamzan Watoni, menyampaikan bahwa deklarasi ini merupakan bentuk semangat persatuan anak muda lintas kampus di seluruh Indonesia. Menurutnya, AMAN hadir sebagai wadah generasi muda yang ingin terlibat dalam percakapan kebangsaan secara terbuka dan konstruktif.
“Hari ini puluhan wilayah di Indonesia mendeklarasikan AMAN secara serentak, termasuk NTB. Kami ingin menunjukkan bahwa anak muda tidak boleh tercerabut dari akar sejarah bangsanya,” ujar Hamzan.
Ia menilai, Soeharto adalah figur penting dalam perjalanan sejarah bangsa yang telah memberikan arah pembangunan yang nyata serta meninggalkan warisan pembangunan yang masih dirasakan hingga kini.
“Pemberian gelar pahlawan untuk Pak Harto adalah bentuk pengakuan atas jasa besar beliau dalam membangun fondasi etika dan disiplin bangsa. Itu warisan historis yang layak diteladani oleh generasi sekarang,” tegasnya.
Akademisi Nilai Soeharto Bangun Rasa Percaya Diri Bangsa
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Dr. Ir. Lalu Wirasapta Karyadi, M.Si hadir sebagai narasumber utama. Ia menegaskan bahwa sejarah mencatat Soeharto sebagai pemimpin yang berhasil membawa Indonesia keluar dari masa sulit pasca-1965 menuju era pembangunan yang stabil dan terarah.
“Pak Soeharto bukan hanya membangun infrastruktur seperti jalan, bendungan, dan irigasi, tetapi juga membangun rasa percaya diri bangsa bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri,” tutur Prof. Wirasapta.
Ia menambahkan bahwa program swasembada beras pada era Soeharto merupakan simbol keberhasilan ekonomi nasional yang menunjukkan kemandirian bangsa.
Pembangunan Sistematis dan Berorientasi pada Rakyat
Sementara itu, Dr. Andi Chairil Ikhsan, S.Hut., M.Si, menilai bahwa kepemimpinan Soeharto berorientasi pada rakyat dengan strategi pembangunan jangka panjang seperti Repelita, transmigrasi, swasembada pangan, dan pembangunan desa.
“Pembangunan di masa Soeharto bukan proyek sesaat, melainkan strategi jangka panjang yang menegakkan kesejahteraan nasional,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto bukan berarti mengabaikan kekurangan masa lalu, melainkan bentuk kedewasaan bangsa dalam memandang sejarah.
Warisan Soeharto untuk NTB Masih Dirasakan
Koordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia (BEM SI), Herianto S.P, menambahkan bahwa masyarakat NTB hingga kini masih merasakan manfaat pembangunan yang dirintis pada masa Soeharto.
“Pertanian di NTB banyak terbantu oleh bendungan dan irigasi yang dibangun di era Soeharto. Itu semua menjadi penopang ekonomi masyarakat hingga hari ini,” ujarnya.
Menurut Herianto, Soeharto layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas jasa besarnya dalam memperkuat sektor pertanian dan meningkatkan taraf hidup masyarakat desa.
Penutupan dan Pernyataan Sikap
Kegiatan ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap bersama AMAN NTB, yang menegaskan dukungan penuh terhadap pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian dan dedikasinya bagi bangsa Indonesia.
Acara kemudian diakhiri dengan foto bersama seluruh peserta dan panitia sebagai simbol persatuan dan semangat kebangsaan generasi muda.
