AbhinayaEkonomiNaturePendidikanSosial

Program Ekspedisi Patriot Ajak Petani Transmigrasi Kembangkan Pupuk Organik Berbasis Jagung

346 kali dibaca

Lombok Timur – Program Trans Patriot hasil kolaborasi Kementerian Transmigrasi dan Institut Pertanian Bogor (IPB) kembali menggelar pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC) untuk para petani di Kawasan Transmigrasi Selaparang. Kegiatan yang menjadi bagian dari Ekspedisi Patriot dengan fokus “Desain Pengembangan Komoditas Unggulan Spesifik” itu dilaksanakan pada 15 November 2025 di Gedung Serbaguna Desa Labuhan Lombok.

Pelatihan tersebut diikuti 34 peserta dari berbagai unsur, mulai dari Gapoktan, kelompok tani, hingga pemerintah desa di kawasan transmigrasi. Konfirmasi kegiatan ini disampaikan oleh tim melalui pesan WhatsApp kepada redaksi.

Tim Ekspedisi Patriot yang terdiri dari dosen, mahasiswa, dan alumni menjadi penyelenggara pelatihan tersebut. Ketua tim, Rici Tri Harpin Pranata, S.Kpm., M.Si., memimpin koordinasi kegiatan dengan memberikan arahan strategis dan akademik. Sementara itu, para mahasiswa terlibat aktif dalam proses edukasi serta pendampingan teknis di lapangan, mencerminkan kerja kolaboratif yang berorientasi pada pengabdian dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam sesi praktik, fasilitator pelatihan Bima Yaremia memperagakan langsung cara membuat POC berbahan dasar limbah jagung—komoditas yang memang dominan di kawasan transmigrasi Selaparang. Ia menekankan bahwa pemanfaatan limbah pertanian dapat membantu petani mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sekaligus menekan biaya produksi.

Para peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan, mulai dari pencacahan bahan, proses fermentasi, hingga teknik aplikasi di lapangan.

Perwakilan Dinas Pertanian, Alimudin, dalam sambutannya mengatakan sebagian besar petani masih menguras sumber daya tanah tanpa mengembalikan unsur hara yang hilang.

“Petani kita hanya mengambil hasil panen, tapi jarang mengembalikan gizi ke tanah lewat pupuk yang tepat, terutama pupuk organik,” kata Alimudin.

Ia juga menyinggung fenomena penggunaan pupuk kimia yang tidak berbasis kebutuhan tanah, tetapi berdasarkan kemampuan finansial petani.

“Rasanya tidak afdol bagi petani bila tidak memakai pupuk kimia. Mereka memupuk bukan dengan ilmu, tapi berdasarkan isi dompet. Semakin tebal dompetnya, semakin berlebihan pupuk yang diberikan,” ujarnya menegaskan.

Melalui pelatihan ini, Alimudin berharap petani mulai beralih secara bertahap ke pupuk organik untuk memperbaiki kondisi tanah yang telah lama terdegradasi.

“Pupuk organik harus mulai diperkenalkan kembali agar kesuburan tanah pulih. Ini investasi jangka panjang,” katanya.

Program Trans Patriot dan rangkaian pelatihan seperti ini diharapkan bisa memperkuat kemandirian petani transmigran, sekaligus mendukung pengembangan komoditas unggulan berbasis lingkungan di Lombok Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *