Kementerian Transmigrasi & IPB Gelar Pelatihan Literasi Keuangan untuk Petani Selaparang
Lombok Timur – Tim B Ekspedisi Patriot (TEP) Kawasan Transmigrasi Selaparang, melalui kerja sama antara Kementerian Transmigrasi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), kembali menggelar pelatihan literasi keuangan bagi para petani di Kawasan Transmigrasi Selaparang. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Serbaguna Desa Labuhan Lombok dan menjadi bagian dari output program Desain Pengembangan Komoditas Unggulan Spesifik di kawasan tersebut.
Pelatihan ini dilaksanakan setelah tim TEP melakukan pendampingan intensif selama hampir empat bulan. Dari hasil pengamatan lapangan, masih banyak masyarakat yang bergantung pada sumber pinjaman informal, seperti tengkulak, yang kerap menimbulkan permasalahan karena pola pengembalian yang memberatkan petani.
Pelatihan literasi keuangan ini juga sejalan dengan target pemerintah melalui Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI) 2025, yang menekankan pentingnya peningkatan literasi keuangan secara inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk petani di kawasan transmigrasi.
Program pelatihan yang dirancang oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) ini bertujuan meningkatkan kemampuan petani dalam menyusun dan mengelola catatan keuangan usaha tani secara mandiri. Kemampuan tersebut diharapkan dapat membantu petani menciptakan struktur biaya produksi yang efisien, menghindari pemborosan, dan meningkatkan ketepatan dalam mengambil keputusan terkait keuangan usaha tani.
Dalam sesi simulasi pencatatan keuangan, terungkap bahwa sebagian besar petani masih mengalami kerugian di musim tanam terakhir. Data simulasi menunjukkan bahwa tidak adanya pencatatan biaya produksi, pengeluaran harian yang tidak terdokumentasi, serta minimnya evaluasi usaha menjadi faktor utama yang menyebabkan kerugian tersebut.
Menanggapi temuan tersebut, fasilitator pelatihan Yolanda Silalahi menegaskan perlunya perubahan pola pikir petani.
“Petani tidak hanya menanam dan memupuk. Ia juga harus berperan sebagai manajer yang mampu mengelola keuangan usaha taninya dan menyelesaikan permasalahan keuangan secara tepat,” jelasnya melalui pesan singkat.
Sementara itu, perwakilan Unit Penyuluh Pertanian (UPT), Sanusi, yang ditemui di lokasi kegiatan, berharap agar seluruh materi pelatihan benar-benar diterapkan di tingkat kelompok tani.
“Materi yang didapatkan hari ini harus benar-benar diterapkan di kelompok tani dan oleh para petani, sehingga tidak berhenti hanya dalam ruang diskusi,” ujarnya.
Sanusi juga menambahkan bahwa sebagian besar petani masih menjalankan usaha tani dengan keterbatasan modal dan tanpa sumber pembiayaan yang jelas.
“Meskipun sumber dana terbatas, harapannya ilmu dari pelatihan ini dapat membantu petani mengelola keuangan dan meraih keuntungan yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya,” tambahnya.
Ketua Tim TEP, Rici Tri Harpin Pranata, yang hadir secara virtual, menyampaikan bahwa terdapat banyak potensi komoditas yang bisa dikembangkan di Kawasan Transmigrasi Selaparang, khususnya di sektor pertanian.
“Kegiatan TEP sudah berlangsung hampir empat bulan. Banyak temuan dan rekomendasi yang akan kami sampaikan, baik di tingkat kecamatan maupun kementerian, untuk perbaikan dan percepatan pengembangan KT Selaparang,” ujarnya.
Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat kapasitas petani Selaparang agar lebih mandiri dalam mengelola usaha tani dan tidak lagi bergantung pada pinjaman informal yang merugikan.
