Muhammadiyah

Senja di Sekotong, Berbagi Rasa Syukur

31 kali dibaca

Langit Sekotong sore itu berwarna jingga keemasan. Ombak pelan menyentuh lambung perahu, seolah ikut menenangkan hati. Aku duduk di haluan perahu kayu, memeluk papan bertuliskan “Program Kemaslahatan Sedekah Qurban BPKH 1447H/2026M”. Kaos putih bertuliskan logo yang sama melekat di badan, basah oleh keringat dan percikan air laut.

Perjalanan ini tidak mudah. Sekotong, Lombok Barat, menyimpan pulau-pulau kecil yang jarang disentuh orang. Listrik redup, akses sulit, dan daging segar sering jadi barang mewah. Tapi di sanalah kami berlabuh hari ini.

“Sedekah Qurban BPKH” bukan cuma soal menyembelih hewan. Cara sederhananya adalah: berangkat. Menyeberang. Mengetuk pintu rumah panggung di pulau terpencil, lalu menyerahkan paket daging qurban sambil tersenyum. Lihat mata anak-anak yang berbinar. Dengar ucapan “terima kasih” dari ibu-ibu yang biasanya hanya bisa makan ikan asin setiap hari.

Saat matahari mulai tenggelam, aku sadar kebahagiaan itu menular. Kami berbagi daging, mereka membagikan cerita dan doa. Tidak ada jarak antara yang memberi dan yang menerima. Hanya rasa syukur yang sama-sama menghangatkan.

Senja itu mengajariku satu hal: berbagi tidak harus menunggu kaya atau punya banyak. Cukup dengan langkah kecil, menyeberang ke pulau yang jauh, dan niat tulus untuk membahagiakan sesama.

Sekotong mengajarkanku bahwa qurban sejati adalah ketika kita rela “menyembelih” zona nyaman, demi senyum orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *