OpiniSosial

TAK BISA DITAWAR, PROVINSI PULAU SUMBAWA (PPS) ADALAH WUJUD KEADILAN.

1742 kali dibaca

Oleh : Anggun Firmansyah (Winner Taruna Samawa 2016)

Bukan gerakan emosional, bukan suara sumbang, bukan pula bentuk permusuhan terhadap Pulau Lombok. Wacana pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa (PPS) adalah seruan keadilan yang sudah lama digaungkan, bentuk aspirasi masyarakat yang ingin mendapatkan perhatian dan perlakuan yang setara dalam pembangunan, pelayanan publik, dan pengambilan keputusan. Maka, bukan sekat yang diciptakan melainkan tekat ingin bangkit dari keterpurukan.

Banyak yang bertanya, apakah layak Provinsi Pulau Sumbawa (PPS) terbentuk ?

Fakta yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) NTB yang dirilis tahun 2024 menyatakan bahwa Pulau Sumbawa bukanlah wilayah yang tertinggal secara potensi. Kabupaten Sumbawa Barat, misalnya, mencatatkan PDRB 2023 per kapita tertinggi di NTB, yakni sebesar Rp193,80 juta per tahun. Jauh melampaui Kota Mataram yang selama ini menjadi pusat pemerintahan NTB dengan PDRB per kapita Rp51,64 juta. Bahkan daerah-daerah lain di Pulau Sumbawa seperti Kabupaten Dompu (Rp34,43 juta), Kabupaten Sumbawa (Rp33,07 juta), dan Kota Bima (Rp30,90 juta) juga menunjukkan kinerja ekonomi yang menjanjikan.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah salah satu indikator utama untuk melihat potensi dan kinerja ekonomi suatu daerah. Data yang membuka mata kita ini menjadi bukti bahwa Pulau Sumbawa bukanlah beban, tetapi justru kontributor kuat dalam perekonomian provinsi NTB. Maka, memperkuat otonomi dan menghadirkan pemerintahan sendiri di Pulau Sumbawa bukanlah keputusan emosional, melainkan strategi pembangunan yang berbasis fakta dan potensi nyata.

Pulau Lombok sudah mapan, bahkan kini tumbuh menjadi destinasi pariwisata kelas dunia yang nyaris menyamai Bali. Infrastruktur dan perputaran ekonomi menandakan bahwa Lombok telah bergerak cepat dan berdiri kokoh sebagai pusat pertumbuhan baru di Indonesia bagian Timur. Jadi, mungkin saja tidak ada kekhawatiran jika pulau seribu masjid ini berdiri di kakinya sendiri. Justru sebaliknya jika pulau sumbawa masih dalam bayang-bayang pulau Lombok maka dirasa akan sulit berkembang.

Faktanya, Pulau Sumbawa dengan luas wilayah yang tiga kali lebih besar dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah masih tertatih dalam infrastruktur dasar, akses pendidikan, hingga layanan kesehatan. Selain kekayaan alam, Pulau Sumbawa juga memiliki Sumber Daya Manusia yang tak kalah unggulnya bahkan mampu bersaing hingga kanca nasional dan intersnasional. Dengan terbentuknya provinsi baru, akan lahir sistem pemerintahan yang lebih dekat, responsif, dan partisipatif terhadap kebutuhan masyarakat setempat. Maka PPS adalah jalan harapan untuk membuka pintu kemajuan itu dengan lebih adil dan merata.

Bukan hanya soal geografis dan anggaran. Secara sosiokultural, Pulau Sumbawa memiliki identitas dan karakter masyarakat yang berbeda. Bahasa, adat, dan tradisi lokal yang kuat perlu mendapat ruang lebih besar dalam sistem pemerintahan yang berdiri sendiri. PPS akan menjadi ruang politik, budaya, dan pembangunan yang lahir dari Pulau Sumbawa, oleh Pulau Sumbawa, dan untuk Pulau Sumbawa.

Tantangan pasti ada. Mulai dari infrastruktur administratif, ketersediaan SDM birokrat, hingga stabilitas politik lokal. Namun tantangan bukan alasan untuk terus menunda. Justru dengan adanya momentum ini, kita bisa menyiapkan segala sesuatunya lebih matang. Pribahasa tau Samawa “Sai Po Lamen No Kita, Pidan Po Lamen No To Ta” menunjukkan semangat perubahan yang kuat.

Cara untuk menyuarakan aspirasi ini agar nyaring terdengar sangatlah banyak, bisa dengan menciptakan propaganda dijalanan, loby politik, bahkan sumbangsih pemikiran dan tulisan. Bersatu adalah solusi paling ampuh untuk menembus telinga pemangku kebijakan di pusat agar tergerak hatinya mendengar keinginan masyarakat Pulau Sumbawa. Bukan dengan saling menjatuhkan, apalagi dengan cara mendeskreditkan gerakan satu sama lainnya.

Jika tujuan kita ingin memajukan masyarakat Pulau Sumbawa, maka kita mesti mengenyampingkan ego individu bahkan kelompok yang hanya bersekala kecil saja. Mari terus gaungkan dan berpegangan tangan erat agar bukan hanya menjadi sebuah mimpi di siang bolong namun terwujud nyata di depan mata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *