Sosial

Era Digital, Banyak Teman Tapi Tetap Sendiri: Psikiater Beberkan Akar Rasa Kesepian Modern

200 kali dibaca

Di tengah kemajuan teknologi dan kemudahan berinteraksi secara daring, banyak orang justru merasa semakin kesepian. Fenomena ini menarik perhatian para ahli kesehatan mental, yang menilai bahwa kemajuan digital ternyata membawa dampak psikologis yang tidak bisa diabaikan.

Psikiater Dr. Andini Pramesti menjelaskan bahwa kesepian di era digital bukan sekadar akibat kurangnya interaksi sosial, tetapi lebih kepada kualitas hubungan yang menurun.Kita memang lebih sering berkomunikasi lewat media sosial, tapi percakapan yang terjadi sering bersifat dangkal dan tidak memberi kedekatan emosional,” ujarnya, Senin (20/10).

Menurutnya, algoritma media sosial juga berperan dalam memperkuat perasaan terisolasi. Pengguna cenderung terjebak dalam “gelembung digital”, hanya melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Hal ini dapat memicu rasa tidak cukup baik, iri, dan pada akhirnya menumbuhkan kesepian meski dikelilingi banyak orang secara virtual.

Dr. Andini menambahkan, pola hidup serba cepat dan kurangnya interaksi tatap muka membuat banyak orang kehilangan koneksi sosial yang bermakna. Manusia pada dasarnya makhluk sosial. Tanpa hubungan yang nyata dan hangat, otak bisa menafsirkan itu sebagai ancaman—dan muncullah stres serta kesepian kronis,” tambahnya.

Para ahli menyarankan agar masyarakat mulai mengurangi ketergantungan pada layar, memperbanyak aktivitas sosial di dunia nyata, serta menjaga keseimbangan antara koneksi digital dan hubungan personal.

Kesepian di era digital menjadi tanda bahwa kemajuan teknologi tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan emosional. Tantangannya kini adalah bagaimana manusia dapat tetap terhubung, tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *