Sosial

Viral Kakek Penjual Es Dituduh Pakai Spons, Ternyata Tak Terbukti

195 kali dibaca

Jakarta Pusat, (27/1) — Sebuah video yang menuding seorang kakek penjual es jadul di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, menggunakan bahan spons dalam dagangannya mendadak viral di media sosial. Video tersebut cepat menyebar dan menarik perhatian banyak warganet dari berbagai daerah. Selain itu, tayangan itu juga memicu kekhawatiran masyarakat terhadap keamanan pangan yang dijual oleh pedagang kaki lima. Akibatnya, isu ini menjadi perbincangan hangat di berbagai platform digital.

Dalam rekaman yang beredar, terlihat dua aparat menghentikan aktivitas sang kakek untuk melakukan pemeriksaan langsung di lokasi. Mereka memeriksa es yang dijual sambil disaksikan warga sekitar. Pada saat itu, sang kakek sempat dituduh mencampurkan potongan spons ke dalam es dagangannya. Tuduhan tersebut kemudian menyebar luas dan menimbulkan asumsi negatif di tengah masyarakat.

Namun, setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, tuduhan tersebut dinyatakan tidak terbukti. Hasil pengecekan menunjukkan bahwa bahan yang digunakan hanyalah es batu biasa. Es tersebut diambil dari pemasok tempat sang kakek biasa mengambil barang dagangan setiap hari. Selain itu, tidak ditemukan adanya bahan berbahaya atau zat mencurigakan dalam es yang dijual.

Sang kakek kemudian memberikan klarifikasi terkait tuduhan tersebut. Ia menjelaskan bahwa dirinya hanya menjual kembali es yang diperoleh dari pihak lain tanpa menambahkan bahan apa pun. Ia juga menegaskan selalu berusaha menjaga kepercayaan pembeli dengan berdagang secara jujur. “Saya hanya ambil es dari orang, lalu saya jual lagi. Saya tidak pernah pakai bahan macam-macam,” ujarnya.

Peristiwa ini pun menuai simpati luas dari masyarakat. Banyak warganet menyayangkan tuduhan yang dinilai terlalu cepat tanpa disertai bukti kuat. Mereka menilai kejadian ini dapat berdampak pada kondisi psikologis serta mata pencaharian sang kakek. Oleh karena itu, warga berharap ke depan proses pemeriksaan dilakukan secara lebih bijak, humanis, dan mengedepankan klarifikasi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *