Gubernur NTB Kunjungi SLBN 1 Sumbawa, Perkuat Pendidikan Inklusif dan Kemandirian Siswa Disabilitas
SUMBAWA (13/3) – Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal mengunjungi SLBN 1 Sumbawa, Kamis (12/3/2026), dalam rangkaian Safari Ramadan Pemerintah Provinsi NTB untuk memperkuat dukungan terhadap pendidikan bagi siswa penyandang disabilitas.
Kunjungan tersebut disambut hangat oleh para guru dan siswa. Sebagai bentuk penyambutan, para siswa menampilkan permainan angklung sebelum gubernur meninjau fasilitas sekolah.
Resmikan Revitalisasi Ruang UKS dan Fasilitas Pembelajaran
Dalam kesempatan itu, Gubernur Miq Iqbal meresmikan sejumlah fasilitas sekolah yang telah direvitalisasi melalui anggaran tahun 2025.
Fasilitas tersebut meliputi ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS), ruang keterampilan, serta beberapa ruang kelas yang telah diperbarui.
Revitalisasi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas sarana pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus di Kabupaten Sumbawa.
“Mudah-mudahan secara bertahap semua sekolah dapat direvitalisasi. Silakan siapkan datanya agar kita bisa melihat kebutuhan yang ada,” ujar Miq Iqbal.
Selain pembangunan ruang, pemerintah juga menambah fasilitas pendukung seperti perlengkapan layanan kesehatan di ruang UKS serta sarana pembelajaran lainnya.
Dorong Pengembangan Keterampilan Siswa Disabilitas
Dalam kunjungan tersebut, gubernur juga berdialog langsung dengan para siswa, guru, dan pengelola sekolah untuk mendengar kebutuhan pendidikan di sekolah luar biasa.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan memberikan perhatian serius terhadap penguatan sarana pendidikan bagi penyandang disabilitas.
Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan keterampilan agar para lulusan SLB memiliki kemandirian ekonomi setelah menyelesaikan pendidikan.
“Anak-anak kita di SLB memiliki potensi besar. Pemerintah harus memastikan mereka mendapat akses pendidikan yang baik sekaligus peluang untuk mandiri,” katanya.
Apresiasi Kreativitas Siswa
Gubernur Miq Iqbal juga menyaksikan langsung berbagai kegiatan keterampilan yang dikembangkan di sekolah tersebut.
Para siswa terlihat aktif mengikuti pelatihan membatik, menyablon kaos, serta memproduksi berbagai karya kreatif lainnya.
Dengan penuh perhatian, gubernur mengamati proses membatik yang dilakukan siswa menggunakan canting di atas kain putih.
Sebagian besar siswa yang mengikuti kegiatan tersebut merupakan penyandang tuna rungu, tuna wicara, serta berbagai ragam disabilitas lainnya.
Seorang guru menjelaskan bahwa siswa tuna rungu umumnya memiliki tingkat fokus tinggi saat melakukan aktivitas keterampilan.
Menanggapi hal itu, gubernur mendorong pengembangan keterampilan siswa ke bidang kreatif seperti desain komunikasi visual.
“Mereka bisa diajarkan desain komunikasi visual. Dengan fokus yang tinggi, hasilnya bisa sangat baik,” ujarnya.
Sebagai bentuk apresiasi, gubernur juga membeli sejumlah kaos hasil karya siswa.
Pemprov NTB Siapkan Dukungan Modal dan Transportasi
Selain meninjau fasilitas sekolah, gubernur juga memberikan arahan kepada perangkat daerah untuk memperkuat dukungan terhadap SLBN 1 Sumbawa.
Pemerintah Provinsi NTB berencana memfasilitasi kerja sama sekolah dengan Bank NTB Syariah guna membuka akses bantuan permodalan bagi alumni SLB yang ingin berwirausaha.
Selain itu, pemerintah juga akan mengupayakan penyediaan kendaraan antar-jemput bagi siswa agar akses transportasi menjadi lebih mudah.
Dorong Akses Pasar Produk Karya Siswa
Gubernur juga mendorong pihak sekolah untuk memperluas kolaborasi dengan dunia usaha dan komunitas.
Langkah ini dinilai penting untuk memasarkan berbagai produk keterampilan yang dihasilkan oleh siswa.
“Produk karya siswa SLB memiliki nilai ekonomi. Kita perlu membuka akses pasar yang lebih luas agar karya mereka dikenal masyarakat,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga akan mengevaluasi kondisi asrama siswa guna memastikan kenyamanan bagi peserta didik yang berasal dari luar daerah.
Melalui kunjungan ini, Pemerintah Provinsi NTB berharap penguatan pendidikan inklusif dapat terus berkembang sekaligus mendorong kemandirian siswa penyandang disabilitas di Nusa Tenggara Barat.
