Opini

NTB dan Denyut Budayanya: Saat Seni Pertunjukan Menjadi Nafas Pariwisata

467 kali dibaca

Oleh Baiq Larre Ginggit Sekar Wangi
Ketua Program Studi Seni Pertunjukan, Universitas Bumigora

 

Di tengah derasnya arus globalisasi dan persaingan industri pariwisata dunia, satu pertanyaan mendasar layak diajukan: apa yang membuat wisatawan benar-benar jatuh cinta pada sebuah daerah?
Bukan hanya pasir putih atau puncak gunung yang menantang. Wisatawan datang bukan sekadar untuk memotret lanskap, melainkan untuk merasakan ruh suatu tempat — nilai-nilai, tradisi, dan cerita yang hidup dalam denyut keseharian masyarakatnya. Di sinilah seni pertunjukan mengambil peran yang tidak tergantikan.

🌏 Pariwisata Bukan Sekadar Pemandangan

NTB — dengan keragaman budaya Sasak, Samawa, dan Mbojo — memiliki kekayaan budaya luar biasa. Tapi sayangnya, keindahan ini seringkali hanya tampak dalam bentuk brosur, video promosi, atau narasi singkat di pameran pariwisata. Sementara seni pertunjukan, sebagai wujud paling otentik dari kebudayaan hidup, belum diberikan panggung yang layak.
Kita lupa bahwa seni pertunjukan adalah bahasa yang bisa dimengerti siapa pun, dari mana pun. Tarian tradisional, musik etnik, hingga drama rakyat lokal membawa serta pesan, sejarah, dan makna yang tak bisa diwakili oleh gambar atau kata-kata saja. Ini bukan sekadar hiburan; ini adalah cermin identitas.

🧭 Dialog Budaya: NTB Mendunia

Pada 26 Juli 2025, Universitas Bumigora menggelar Dialog Budaya bertajuk “NTB Mendunia.” Bukan sekadar acara akademik, dialog ini menjadi forum penting yang menyatukan pemikir budaya, seniman, dan pengambil kebijakan. Kami semua sepakat pada satu hal: tanpa seni, pariwisata kehilangan jiwanya.
Sebagai akademisi dan pelaku seni, saya melihat kegiatan ini sebagai bentuk kritik lembut namun tajam terhadap arah pembangunan yang terlalu menitikberatkan pada fisik, infrastruktur, dan estetika, tapi lupa pada substansi kultural yang seharusnya menjadi fondasi.

🏛️ Ketiadaan Ruang, Kegigihan Komunitas

ronisnya, di tengah semangat membangun NTB sebagai destinasi wisata kelas dunia, belum ada ruang pertunjukan permanen di kota seperti Mataram. Para seniman masih bergantung pada panggung-panggung sementara, halaman rumah, atau bahkan sekadar teras sanggar.
Sanggar-sanggar seni hidup dari semangat yang luar biasa — mereka adalah penjaga nilai, penggerak akar budaya. Namun, dukungan struktural dan fasilitas yang layak masih menjadi mimpi.

🌟 Visi Masa Depan: Teater Sebagai Destinasi

Dalam forum yang sama, Rektor Universitas Bumigora, Prof. Dr. Ir. Anthony Anggrawan, MT., Ph.D., menyampaikan gagasan visioner: membangun arena teater permanen yang bukan hanya jadi pusat pertunjukan, tapi ikon budaya dan destinasi wisata itu sendiri.
Sebuah panggung seni yang aktif, terkelola, dan terbuka bagi wisatawan serta masyarakat lokal akan menjadi bukti bahwa NTB tak hanya menjual lanskap, tapi juga narasi dan nilai.

📣 Saatnya Seni Menjadi Arus Utama

Sudah waktunya kita berhenti memandang seni pertunjukan sebagai pelengkap atau bonus. Ia harus menjadi arus utama dalam pembangunan pariwisata budaya. Karena hanya dengan menghidupkan cerita, tradisi, dan ekspresi lokal, NTB bisa berdiri gagah di tengah arus globalisasi — tanpa kehilangan jati diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *