Kampung Inggris Pare: Magnet Pelajar Indonesia, Perputaran Ekonomi Capai Rp200 Miliar per Bulan
Oleh:
Abdurrahman, SE., MM.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram
Komisaris di Abhinaya Indo Group
Pare, Kediri – Jawa Timur, 20 November 2025.
Di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi pendidikan, Kampung Inggris Pare di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, tetap menjadi magnet bagi ribuan pelajar dari seluruh Indonesia. Kawasan ini bukan sekadar tempat belajar bahasa, tetapi juga simbol transformasi sosial dan ekonomi berbasis pendidikan yang lahir dari semangat masyarakat lokal dalam membangun suasana lingkungan belajar bahasa asing yang inklusif.
Dari Desa Sederhana Menjadi Ikon Nasional
Kampung Inggris berlokasi di dua desa: Desa Tulungrejo dan Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Suasana kedua desa ini sangat khas: penuh dengan deretan lembaga bahasa, sepeda-sepeda yang berseliweran, kos sederhana, warung makan, hingga papan kursus bahasa asing di setiap sudut jalan.
Fenomena Kampung Inggris bermula pada tahun 1977, saat Mr. Kalend Osen (Mr. Qolani) — seorang alumni Pondok Modern Gontor asal Kalimantan — mulai membuka kursus kecil bernama Basic English Course (BEC) di rumahnya. Awalnya ia hanya mengajar enam murid dari pesantren sekitar, namun metode pengajaran komunikatif yang diterapkannya membuat banyak orang tertarik datang ke Pare.
Kini, menurut data Pemerintah Kabupaten Kediri tahun 2025, Kampung Inggris menampung lebih dari 20.000 pelajar aktif setiap bulan, dengan total lebih dari 150 lembaga kursus bahasa yang tersebar di Desa Tulungrejo dan Pelem.
Selain Bahasa Inggris yang menjadi identitas utama, sejumlah lembaga juga telah membuka kursus Bahasa Arab, Mandarin, Korea, Jepang, dan Jerman. Beberapa lembaga ternama di antaranya:
Basic English Course (BEC), The Daffodils, Global English, Happy English Course, Access English, Mahesa Institute, Language Center (LC), Titik Nol English Course, Harvard Course, Global Village, Everbest Mandarin Class, dan Han School of Korean Language.
Perkembangan ini menjadikan Pare sebagai pusat pembelajaran bahasa terbesar di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara. Setiap tahun, ribuan pelajar dari Sabang sampai Merauke datang untuk meningkatkan kemampuan bahasa asing mereka — menjadikan Pare sebagai ikon nasional pendidikan bahasa.
Kampung Inggris, Magnet Pelajar dari Seluruh Indonesia
Daya tarik Kampung Inggris tak lepas dari biaya kursus yang terjangkau, metode belajar intensif dan komunikatif, serta lingkungan yang mendukung. Berdasarkan data komunitas pendidikan Pare tahun 2024, sebaran asal peserta belajar bahasa di Kampung Inggris berasal dari hampir seluruh provinsi di Indonesia, bahkan dari luar negeri.
Sebagian besar peserta berasal dari Jawa Timur (23%), diikuti Jawa Tengah dan Yogyakarta (15%), Jawa Barat (13%), Sumatra dan Sulawesi masing-masing 12%, serta pelajar dari Bali, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Bahkan terdapat peserta dari luar negeri yang tertarik mengikuti program singkat atau intensif di Pare.
Keberagaman asal peserta ini menciptakan interaksi sosial yang dinamis dan memperkuat citra Pare sebagai destinasi pendidikan nasional yang multikultural. Kampung Inggris kini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga wadah pertukaran budaya antardaerah di Indonesia.
Efek Ekonomi yang Menggeliat
Kehadiran puluhan ribu pelajar setiap bulan menimbulkan multiplier effect besar bagi ekonomi masyarakat Pare. Dengan asumsi rata-rata pengeluaran pelajar sebesar Rp5 juta per bulan untuk kursus, kos, makan, dan transportasi, maka perputaran uang di Kampung Inggris diperkirakan mencapai Rp200 miliar per bulan.
Konsep ini dapat dijelaskan melalui teori Keynesian Multiplier (k = 1 / (1 – MPC)), di mana meningkatnya konsumsi masyarakat dari sektor pendidikan dapat memperkuat pendapatan lokal secara signifikan. Usaha kos-kosan, warung, laundry, rental sepeda, dan toko alat tulis menjadi sektor yang paling diuntungkan.
Menurut Abdurrahman, SE., MM., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram sekaligus Komisaris di Abhinaya Indo Group, fenomena ekonomi Kampung Inggris adalah contoh konkret pemberdayaan ekonomi berbasis pendidikan.
“Kampung Inggris Pare adalah model sukses bagaimana pendidikan bisa menjadi penggerak ekonomi daerah. Sektor informal tumbuh, lapangan kerja tercipta, dan kesejahteraan masyarakat meningkat seiring berkembangnya lembaga kursus di kawasan ini,” jelasnya.
Menuju Ekosistem Pembelajaran Digital
Memasuki era digital, banyak lembaga di Kampung Inggris mulai mengadopsi hybrid learning dan promosi berbasis media sosial. Inovasi ini memungkinkan pelajar dari seluruh Indonesia mengikuti pembelajaran jarak jauh, tanpa kehilangan interaksi khas Kampung Inggris.
Dengan strategi adaptif dan kolaborasi pemerintah daerah, Pare berpotensi menjadi pusat pendidikan bahasa digital nasional, sekaligus model ekonomi kreatif berbasis pendidikan masyarakat
