Potensi Jagung dan Limbahnya: Selaparang Siap Jadi Kawasan Ekonomi Unggulan
Selaparang — Upaya memajukan Kawasan Transmigrasi Selaparang terus menunjukkan perkembangan positif. Dalam empat bulan terakhir, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang terdiri dari alumni dan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerja sama dengan Kementerian Transmigrasi melakukan pendampingan intensif di kawasan tersebut. Rangkaian kegiatan lapangan yang ditutup dengan FGD tingkat kabupaten ini menghasilkan sejumlah temuan penting terkait potensi pertanian dan arah pengembangan ekonomi kawasan.
Ketua TEP Tim B, Rici Tri Harpin, menyampaikan bahwa penguatan ekonomi masyarakat Selaparang tidak bisa hanya bertumpu pada produksi jagung pipil. Menurutnya, kunci transformasi terletak pada penguatan kelembagaan ekonomi petani serta peningkatan kapasitas SDM.
“Jagung itu punya nilai tambah yang besar. Kita tidak bisa hanya berhenti pada jagung pipil. Limbahnya saja, jika diolah dengan baik, bisa menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat. Namun selama ini pemanfaatannya masih jauh dari optimal,” ujar Rici.
Ia menjelaskan bahwa limbah jagung sebenarnya memiliki banyak potensi, mulai dari pakan ternak, bahan bakar biomassa, hingga produk kerajinan. Pengembangan ini dinilai mampu memperkuat pendapatan rumah tangga petani sekaligus membuka peluang usaha baru bagi pemuda desa.
Temuan lapangan ini mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Edy Ilham dari Bappeda Lombok Timur mengatakan bahwa hasil analisis yang dilakukan TEP memberi perspektif baru dalam penyusunan arah pembangunan daerah, khususnya dalam perumusan RPJMd.
“Empat bulan terakhir, hasil identifikasi teman-teman TEP memberikan sudut pandang baru bagi kami. Ini menjadi masukan strategis untuk merancang RPJMd, agar kawasan transmigrasi benar-benar mampu tumbuh sebagai pusat ekonomi baru,” jelasnya.
Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah daerah dan tim teknis, Selaparang kini dinilai semakin siap melakukan lompatan ekonomi. Kawasan ini tidak hanya berpotensi menjadi lumbung jagung, tetapi juga pusat inovasi berbasis potensi lokal, mulai dari produktivitas lahan hingga pengolahan limbah. Masyarakat pun menanti perubahan yang lebih besar dan lebih berkelanjutan.
