Opini

Wisuda, Budaya, dan Masa Depan: Catatan Anak Sasak Melihat Ritual Sembeq di Kampus

459 kali dibaca

Oleh: Lalu Riki Wijaya, SH., MH.
Ketua Ikatan Pelajar Majelis Adat Sasak

Mataram (3/1) — Di tengah dunia yang makin cepat, serba digital, dan kadang lupa akar, saya justru merasa bangga ketika melihat wisuda Institut Elkatarie Lombok Timur yang menghadirkan ritual sembeq sebagai bagian dari prosesi akademik. Jujur, ini bukan sekadar seremoni. Ini pernyataan sikap.

Sebagai anak Sasak, saya melihat ritual sembeq bukan soal sirih di dahi. Ia adalah simbol restu, doa, dan hubungan batin antara generasi tua dan generasi muda. Ketika ritual ini masuk ke ruang akademik, pesan yang disampaikan jelas: pendidikan tinggi tidak harus memutus identitas budaya.

Kita hidup di era Gen Z, era yang sering dituduh “kebarat-baratan”, “kurang adat”, dan “jauh dari tradisi”. Tapi sebenarnya bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah ketika ruang-ruang formal—termasuk kampus—tidak memberi tempat bagi budaya lokal untuk hidup dan bernapas.

Apa yang dilakukan Institut Elkatarie menurut saya keren dan relevan. Kampus ini tidak hanya bicara soal IPK, gelar, atau akreditasi, tapi juga tentang siapa kita dan dari mana kita berasal. Integrasi budaya Sasak dan nilai keislaman bukan nostalgia romantik, tapi strategi masa depan.

Gubernur NTB menyampaikan satu hal penting: diferensiasi. Dan saya sepakat. Di dunia yang kompetitif, lulusan yang “itu-itu saja” akan sulit bertahan. Yang dibutuhkan adalah manusia yang punya karakter, identitas, dan nilai. Budaya Sasak dan Islam bisa menjadi fondasi kuat untuk itu.

Sebagai Ketua Ikatan Pelajar Majelis Adat Sasak, saya percaya bahwa budaya bukan penghambat kemajuan. Justru budaya adalah kompas moral agar kita tidak kehilangan arah. Ritual, bahasa, etika, dan nilai lokal harus hadir di ruang pendidikan, bukan dipajang di museum lalu dilupakan.

Gen Z Sasak tidak alergi tradisi. Kami hanya ingin tradisi itu dimaknai ulang, dihidupkan dengan cara yang relevan, bukan dipaksakan secara kaku. Ketika kampus mampu melakukan itu, maka pendidikan tidak hanya mencetak sarjana, tapi melahirkan manusia utuh.

Semoga langkah Institut Elkatarie ini tidak berhenti di satu wisuda. Semoga kampus-kampus lain di NTB berani melakukan hal serupa. Karena masa depan tidak dibangun dengan melupakan akar, tapi dengan berdiri kokoh di atasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *