Ekonomi

Produksi Padi NTB Naik 16,85 Persen, Pemprov Optimistis Perkuat Ketahanan dan Swasembada Pangan

88 kali dibaca

Mataram (20/1) — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ketahanan dan swasembada pangan daerah. Hal tersebut sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang mendorong penguatan produksi pangan nasional melalui peningkatan produktivitas pertanian dan perluasan areal tanam di berbagai daerah, termasuk di NTB.

Komitmen tersebut disampaikan Kepala Dinas Kominfotik NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB Ahsanul Khalik bersama Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB Eva Dewiyani, Selasa (20/1/2026).

Produksi Padi NTB Meningkat Signifikan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui metode Kerangka Sampel Area (KSA), produksi padi NTB pada tahun 2025 tercatat mencapai 1.698.283 ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka tersebut meningkat 16,85 persen dibandingkan produksi tahun 2024 yang sebesar 1.453.408 ton GKG.

Peningkatan ini tidak hanya dipengaruhi oleh produktivitas yang membaik, tetapi juga oleh bertambahnya luas panen. Pada tahun 2024, luas panen tercatat 281.718 hektare, kemudian meningkat menjadi 322.927 hektare pada tahun 2025.

Selain itu, produktivitas padi juga mengalami peningkatan dari 51,59 kuintal per hektare pada tahun 2024 menjadi 52,59 kuintal per hektare pada tahun 2025.

Kontribusi Daerah Penghasil Padi di NTB

Secara rinci, beberapa daerah memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi padi NTB. Kabupaten Lombok Tengah tercatat sebagai daerah dengan produksi tertinggi dengan luas panen 78.639 hektare dan produksi 421.941 ton GKG.

Selanjutnya, Kabupaten Sumbawa menghasilkan 398.864 ton GKG dari luas panen 74.736 hektare. Sementara Kabupaten Lombok Timur mencatat produksi 243.474 ton GKG dengan luas panen 45.387 hektare.

Di sisi lain, beberapa daerah lain juga turut berkontribusi, di antaranya Kabupaten Bima, Dompu, Lombok Barat, Sumbawa Barat, serta Lombok Utara. Adapun untuk wilayah perkotaan, produksi juga tercatat di Kota Mataram dan Kota Bima.

Program Strategis Dorong Peningkatan Produksi

Menurut Dr. Aka, capaian produksi tersebut merupakan hasil sinergi berbagai pihak dalam mendukung pembangunan sektor pertanian. Selain itu, keberhasilan ini juga tidak terlepas dari sejumlah program strategis pemerintah yang berpihak pada petani.

Beberapa program tersebut antara lain optimalisasi lahan seluas 10.574 hektare pada tahun 2025, penggunaan benih unggul bersertifikat, serta penyaluran pupuk subsidi sesuai kebutuhan petani melalui Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

Selain itu, kebijakan penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah di tingkat petani menjadi Rp6.500 per kilogram turut memberikan dorongan bagi peningkatan produksi.

Optimisme Menuju Swasembada Pangan NTB

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB Eva Dewiyani menegaskan bahwa pada tahun 2026 pemerintah daerah akan terus memperkuat berbagai program strategis untuk mengoptimalkan potensi pertanian daerah.

Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan program optimalisasi lahan, peningkatan produktivitas pertanian, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, instansi teknis, dan para petani.

“NTB optimistis dapat terus menjaga tren peningkatan produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan sebagai kontribusi daerah dalam mewujudkan swasembada pangan nasional,” ujarnya.

Dengan capaian produksi yang terus meningkat, Provinsi NTB diharapkan mampu menjadi salah satu daerah penopang utama ketahanan pangan nasional di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *