MuhammadiyahOpini

Distortif IMM di Milad ke-62: Refleksi Kritis Gerakan Intelektual Mahasiswa Muhammadiyah

196 kali dibaca

Opini: Bang Alif (Senior IMM)

Mataram (15/3) — Distortif IMM di Milad ke-62 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah menjadi refleksi penting tentang konsistensi gerakan kader dalam melawan berbagai bentuk dominasi pengetahuan, kekuasaan, dan praktik sosial yang tidak adil.

Milad ke-62 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bukan sekadar perayaan organisasi. Momentum ini menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang gerakan intelektual mahasiswa Muhammadiyah yang terus merawat nalar kritis dan kesadaran kemanusiaan.

Sejak awal berdiri, IMM dikenal sebagai organisasi kader yang menempatkan teologi, humanisme, dan intelektualitas sebagai fondasi gerakan. Nilai tersebut ditanamkan sejak proses kaderisasi dasar seperti Darul Arqam Dasar (DAD).

Melalui kaderisasi itu, kader IMM diajak memahami hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam dalam satu kesatuan nilai yang tidak dapat dipisahkan.


Distortif IMM dan Tradisi Kritik terhadap Dominasi

Dalam perjalanan sejarahnya, IMM memiliki apa yang sering disebut sebagai distortif IMM, yaitu cara pandang kritis terhadap berbagai bentuk dominasi.

Distortif di sini bukan berarti penyimpangan, melainkan upaya reflektif untuk menjaga kebebasan berpikir serta keberanian mempertanyakan otoritas yang membatasi kemajemukan manusia.

IMM menolak pemahaman agama yang dibekukan menjadi dogma tanpa ruang kritik. Sebaliknya, teologi harus terus dipahami secara reflektif agar tidak terjebak pada mitos atau keputusan nilai yang difinalkan secara sepihak.

Dengan cara itu, IMM berupaya memastikan bahwa agama tetap menjadi sumber moral yang membebaskan, bukan alat legitimasi kekuasaan.


Perspektif Ilmu Pengetahuan dan Kritik Kekuasaan

Gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran filsuf modern Michel Foucault yang melihat manusia sebagai konstruksi diskursif yang terus menemukan makna dalam setiap periode sejarahnya.

Menurut Foucault, ilmu pengetahuan sering kali berkaitan erat dengan kekuasaan. Pengetahuan tidak selalu netral, tetapi dapat digunakan untuk mengatur, mengontrol, bahkan mendominasi manusia.

Dalam konteks ini, IMM memahami bahwa pengetahuan harus dibebaskan dari dominasi doktrin yang membatasi kebebasan berpikir.

Karena itu, kader IMM didorong untuk mengembangkan tradisi intelektual yang kritis sekaligus terbuka terhadap berbagai perspektif keilmuan.


Kaderisasi IMM: Menjaga Agama, Ilmu, dan Kemanusiaan

Sejak awal, sistem kaderisasi IMM berfungsi sebagai ruang proteksi ideologis bagi kadernya.

Di dalamnya ditegaskan bahwa agama harus dibersihkan dari praktik kesyirikan, ilmu pengetahuan harus bebas dari dogma sempit, dan manusia harus menjaga bumi sebagai ruang kehidupan bersama.

Kesadaran ini menjadi fondasi penting bagi kader IMM dalam menghadapi kompleksitas dunia modern.

IMM lahir di tengah dinamika dominasi dalam agama, ilmu pengetahuan, dan perilaku sosial manusia.

Karena itu, organisasi ini menempatkan kader sebagai agen perubahan yang tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga memiliki komitmen moral terhadap kemanusiaan.


Milad IMM ke-62 dan Refleksi Kemanusiaan

Pada usia ke-62 tahun, IMM semakin dewasa dalam membaca realitas sosial.

Refleksi Milad IMM mengingatkan bahwa bumi bukanlah ruang bagi manusia untuk bersikap angkuh, rakus, dan tamak.

Sebaliknya, bumi adalah ruang kehidupan yang harus dijaga dengan moralitas, kesadaran sosial, serta penghargaan terhadap sesama manusia.

IMM percaya bahwa perjuangan intelektual tidak pernah berhenti.

Selama manusia masih mencari makna tentang Tuhan, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan, selama itu pula gagasan kritis IMM akan terus hidup dalam diskusi, kaderisasi, dan gerakan sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *