SUDAH SAMPAI MANA PERJALANAN NTB MENUJU ‘MENDUNIA’ ?
Oleh : Ir. Anggun Firmansyah, ST. (Pemuda Nusa Tenggara Barat)
Slogan “NTB Mendunia” yang terdengar ambisius, menggugah semangat, dan menjanjikan harapan besar. Selogan yang pernah menghiasi baliho, spanduk, dan sosial media pada pesta demokrasi lalu. Kemudian saat ini muncul satu pertanyaan sederhana namun penting, sudah sampai manakah perjalanan NTB ? apakah sedang boarding di bandara ? atau kapal karam di jalur laut ?
Program-program menuju “mendunia” sangat samar terlihat dan nampak tak terdengar. Tak banyak yang tahu apa sebenarnya strategi besar yang tengah dijalankan pemerintah daerah untuk membawa NTB ke level global. Apakah itu dari sektor pariwisata, pendidikan, ekspor, atau transformasi digital?
Minimnya sosialisasi dan transparansi membuat masyarakat seolah hanya diajak menjadi penonton dari slogan yang terus diulang. Harapan masyarakat NTB ialah kejelasan arah peta kita menuju dunia, lengkap dengan langkah-langkah nyata, target waktu yang terukur, serta siapa saja yang bertanggung jawab menjalankannya. Sayangnya, kenyataan yang ada justru memperlihatkan arah yang berlawanan dengan semangat dalam slogan tersebut.
Ironinya, fakta selalu pahit untuk diungkapkan. Di saat provinsi lain tumbuh menggeliat, NTB justru menjadi urutan dua terakhir dari seluruh provinsi di Indonesia yang ekonominya terjun ke zona merah. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat pertumbuhan ekonomi NTB pada Triwulan I 2025 mengalami kontraksi. Secara kuartalan (q-to-q), ekonomi NTB turun (-2,32%), sementara secara tahunan (y-on-y) turun (-1,47%).

Penyebab utama kontraksi ini adalah belum terealisasinya sebagian besar anggaran proyek pemerintah daerah. Baik dari APBD I (provinsi) maupun APBD II (kabupaten/kota), serta tidak adanya ekspor dari sektor tambang selama tiga bulan pertama tahun 2025 ini.
Satu hal lain yang tak bisa diabaikan adalah ketimpangan pembangunan antarwilayah di NTB. Selama ini, Lombok dan Pulau Sumbawa kerap tumbuh dengan kecepatan yang tak seimbang. Memang, pembangunan infrastruktur seperti KEK Mandalika patut diapresiasi karena mampu menarik perhatian internasional. Tapi di sisi lain, masih banyak daerah pelosok yang belum menikmati akses dasar seperti jalan yang layak, listrik stabil, atau jaringan internet memadai. Jadi tak berlebihan, Menteri Dalam Negeri mempertanyakan kinerja dan kaget dengan pencapaian NTB saat ini.
“Wajar, nahkodanya kan baru berlayar 3 bulan dan ini akibat nahkoda lama !“ ucap tim. Mungkin saja ada benarnya, tapi tak sepenuhnya benar. Meskipun Gubernur Lalu M. Iqbal baru menjabat, kontraksi ekonomi NTB pada triwulan I 2025 terjadi selama masa kepemimpinannya. Banyak lagi gubernur-gubernur lain di Indonesia yang baru menjabat, namun kemajuannya nampak terlihat. Apalagi dengan kualitas Gubernur NTB yang seorang diplomat ulung, pintar, dan tidak pandai mencari alasan untuk berkelit.
