Muhammadiyah

Ketua PWM NTB Tegaskan Relawan Muhammadiyah sebagai Mujahid Kemanusiaan yang Beradab dan Berilmu

308 kali dibaca

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Nusa Tenggara Barat (PWM NTB), Dr. H. Falahuddin, M.Ag., menegaskan bahwa relawan Muhammadiyah merupakan mujahid kemanusiaan. Mereka tidak hanya membantu korban bencana. Namun, mereka juga membawa nilai, akhlak, dan manhaj Persyarikatan Muhammadiyah dalam setiap pengabdian di lapangan.

Penegasan tersebut disampaikan saat Pelatihan & Penguatan Kapasitas Relawan Muhammadiyah NTB bertema “Respon Bencana Banjir & Longsor Sumatra–Aceh”. Kegiatan ini digelar pada 5 Januari 2025 di Kantor PW Muhammadiyah NTB.

Dalam arahannya, Ketua PWM NTB menekankan bahwa setiap relawan membawa nama besar Muhammadiyah. Oleh karena itu, seluruh sikap, tutur kata, dan praktik di lapangan harus selaras dengan nilai ibadah, ilmu, dan adab. Relawan diharapkan menjadi teladan moral dan spiritual. Mereka bukan sekadar pelaksana tugas teknis kebencanaan.

“Menjadi relawan kemanusiaan adalah tugas mulia yang bernilai jihad insani. Karena membawa nama Muhammadiyah, maka setiap langkah di lapangan harus berlandaskan ibadah, ilmu, dan adab. Kita tidak hadir untuk menghakimi musibah, tetapi untuk memahami, membantu, dan menguatkan. Dulu saat NTB diuji gempa, saudara-saudara kita datang menolong. Hari ini, giliran kita hadir dengan kesiapan, ketulusan, dan persahabatan agar senyum mereka kembali mekar menghadapi ujian dari Allah,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya sikap arif dan berilmu dalam memahami bencana. Hal ini terutama berlaku di wilayah Aceh yang memiliki keragaman latar belakang keagamaan. Relawan diminta tidak tergesa-gesa menghakimi musibah sebagai akibat kesalahan manusia semata. Muhammadiyah, menurutnya, telah merumuskan Fikih Kebencanaan sebagai pedoman. Dengan demikian, bencana dapat dipahami secara bijak, ilmiah, dan penuh empati.

Sementara itu, Ketua PWM NTB juga menegaskan bahwa relawan Muhammadiyah adalah mujahid kemanusiaan yang menjalankan tugas dengan niat ibadah. Untuk menjaga keberkahan pengabdian, relawan yang telah berkeluarga dianjurkan meminta izin dan restu istri. Adapun relawan yang masih menjadi tanggungan orang tua diharapkan memohon doa serta izin mereka. Niat yang baik, insyaallah, akan melahirkan kebaikan dalam setiap langkah.

Akhirnya, ia mengingatkan pengalaman gempa NTB tahun 2018. Saat itu, solidaritas dari berbagai daerah di Nusantara mengalir membantu masyarakat NTB. Kini, Muhammadiyah NTB dipanggil untuk membalas solidaritas tersebut. Relawan diharapkan tampil kuat, siap, dan bersahabat. Dengan cara itu, mereka dapat meringankan beban para penyintas serta mengembalikan harapan di tengah ujian dari Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *