MTQ XXXI NTB, Momentum Meneguhkan Serambi Al-Qur’an dan Membangkitkan Prestasi Daerah
Praya (14/6) – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat di Praya, Lombok Tengah, menghadirkan makna yang jauh melampaui sebuah perlombaan. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat pembinaan Al-Qur’an. Selain itu, MTQ juga mempererat persaudaraan masyarakat dan membangkitkan optimisme menuju prestasi yang lebih tinggi.
Sejak pawai ta’aruf hingga pembukaan resmi, suasana yang tercipta menunjukkan antusiasme masyarakat yang luar biasa. Ribuan warga memadati arena kegiatan. Sementara itu, tokoh agama, tokoh masyarakat, unsur pemerintah, dan perwakilan lintas agama hadir dalam suasana yang harmonis.
Pemandangan tersebut memperlihatkan bahwa syiar Islam di NTB berjalan seiring dengan semangat toleransi. Karena itu, MTQ tidak hanya menjadi ajang keagamaan, tetapi juga sarana memperkuat persatuan di tengah keberagaman.
Lombok Tengah Tunjukkan Kapasitas sebagai Tuan Rumah
Lombok Tengah berhasil menunjukkan kapasitasnya sebagai tuan rumah yang baik. Persiapan yang matang membuat pelaksanaan MTQ berlangsung tertib dan nyaman.
Arena utama yang megah menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu, lokasi perlombaan tertata dengan baik dan pelayanan kepada peserta berjalan lancar. Penampilan Tarian Kolosal Rahmatan Lil ‘Alamin juga memberikan kesan mendalam pada malam pembukaan.
Banyak pihak menilai kualitas penyelenggaraan MTQ XXXI setara dengan ajang tingkat nasional. Oleh karena itu, keberhasilan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Lombok Tengah dan NTB secara umum.
Menguatkan Budaya Qur’ani di Nusa Tenggara Barat
Meski kemasan acara terlihat megah, nilai utama MTQ terletak pada substansinya. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya Qur’ani di tengah masyarakat.
Apresiasi yang disampaikan Sekretaris Umum LPTQ Pusat, Prof. Dr. H. Muchlis M. Hanafi, menjadi pengakuan atas tingginya kecintaan masyarakat NTB terhadap Al-Qur’an. Dengan demikian, NTB dinilai memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan pembinaan Al-Qur’an secara berkelanjutan.
Lebih jauh, kondisi tersebut sejalan dengan visi Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, yang ingin menjadikan NTB sebagai Serambi Al-Qur’an. Visi ini tidak sekadar slogan. Sebaliknya, visi tersebut diarahkan untuk memperkuat literasi Al-Qur’an, meningkatkan kualitas qari dan qariah, serta menanamkan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
MTQ sebagai Bagian dari Sistem Pembinaan
MTQ tidak boleh dipandang hanya sebagai perlombaan tahunan. Sebaliknya, ajang ini harus menjadi bagian dari sistem pembinaan yang berkelanjutan.
Perlombaan hanyalah salah satu tahapan untuk menemukan bakat terbaik. Setelah itu, diperlukan pembinaan yang konsisten agar potensi peserta terus berkembang. Karena itu, keberhasilan MTQ tidak hanya diukur dari jumlah juara yang lahir.
Yang lebih penting adalah terbentuknya sistem yang mampu melahirkan prestasi secara berkesinambungan. Dengan cara tersebut, NTB dapat kembali menjadi salah satu kekuatan utama dalam ajang MTQ nasional.
Menjaga Integritas dan Kepercayaan Publik
Selama pelaksanaan, MTQ XXXI berlangsung aman dan tertib. Meski demikian, beberapa dinamika sempat muncul. Di antaranya adalah keberatan terhadap hasil penilaian, substansi soal, dan kendala teknis.
Situasi seperti itu merupakan hal yang wajar dalam kegiatan berskala besar. Namun demikian, panitia dan dewan hakim menunjukkan sikap terbuka dalam memberikan klarifikasi. Selain itu, evaluasi juga dilakukan untuk memastikan setiap persoalan diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Komitmen terhadap objektivitas dan integritas menjadi faktor penting. Dengan demikian, kepercayaan publik terhadap MTQ tetap terjaga.
Kolaborasi untuk Masa Depan Prestasi NTB
Kini seluruh babak penyisihan telah selesai dilaksanakan. Para finalis terbaik dari berbagai cabang musabaqah telah terpilih. Kompetisi yang berlangsung sehat menunjukkan tingginya kualitas peserta dari seluruh kabupaten dan kota di NTB.
Di sisi lain, keberhasilan penyelenggaraan MTQ juga membuktikan pentingnya kolaborasi. Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, LPTQ, dewan hakim, panitia, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat bekerja bersama menyukseskan kegiatan ini.
Sinergi tersebut menjadi modal besar untuk memperkuat tradisi Qur’ani di Bumi Gora. Oleh sebab itu, semangat kebersamaan yang terbangun selama MTQ perlu terus dipelihara.
Tonggak Menuju Serambi Al-Qur’an
Menjelang babak final, harapan besar tertuju pada dewan hakim untuk terus mengedepankan profesionalisme dan keadilan. Dari proses yang kredibel akan lahir para juara terbaik yang layak mewakili NTB di tingkat nasional.
Pada akhirnya, keberhasilan MTQ XXXI tidak diukur dari kemegahan seremoni ataupun banyaknya piala yang diperebutkan. Nilai utamanya terletak pada tumbuhnya kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an. Selain itu, MTQ juga memperkuat persaudaraan dan membangun komitmen bersama untuk melahirkan generasi Qur’ani yang berilmu, berakhlak, dan berprestasi.
Jika semangat yang tumbuh di Praya terus dirawat, maka MTQ XXXI akan dikenang sebagai tonggak penting dalam perjalanan NTB menuju Serambi Al-Qur’an. Lebih dari itu, ajang ini dapat menjadi titik awal kebangkitan prestasi NTB di tingkat nasional maupun internasional.
