Siapa Generasi Sasak Terakhir?
Oleh : Lalu Riki Wijaya, SH., MH.
Ketua Ikatan Pelajar Majelis Adat Sasak
Lombok timur (13/2) — Pertanyaan tentang “siapa generasi Sasak terakhir” sejatinya bukanlah pertanyaan tentang kepunahan etnis, melainkan tentang keberlanjutan nilai, identitas, dan tanggung jawab kultural. Suku Sasak sebagai komunitas adat yang mendiami Pulau Lombok memiliki warisan luhur berupa bahasa, aksara, sistem nilai, serta tradisi seperti sorong serah aji krama, nyongkolan, dan praktik musyawarah berbasis kekerabatan. Dalam perspektif akademik, keberlanjutan suatu komunitas adat tidak hanya ditentukan oleh faktor biologis, tetapi terutama oleh transmisi nilai antargenerasi.
Generasi Sasak terakhir bukanlah mereka yang hidup pada suatu kurun waktu tertentu, melainkan mereka yang berhenti mewariskan adat, bahasa, dan etika leluhur kepada anak cucunya. Ketika bahasa Sasak tidak lagi dituturkan di ruang keluarga, ketika tata krama adat tidak lagi dipahami dalam praktik sosial, dan ketika simbol-simbol budaya hanya dipandang sebagai seremoni tanpa makna, maka pada saat itulah identitas menghadapi erosi.

Sebaliknya, selama generasi muda tetap menjadikan adat sebagai pedoman moral lurus dalam tingkah laku, santun dalam tutur kata, serta bijak dalam perbuatan, maka tidak akan pernah ada generasi Sasak terakhir. Setiap anak yang belajar menghormati orang tua, memahami struktur adat, dan mencintai tanah leluhurnya adalah mata rantai keberlanjutan peradaban Sasak.
Dengan demikian, pertanyaan tersebut sesungguhnya bertransformasi menjadi refleksi kolektif: apakah kita menjadi generasi pewaris yang menjaga marwah adat, atau justru generasi yang lalai merawatnya? Jawabannya terletak pada kesadaran, komitmen, dan tanggung jawab kita bersama sebagai bagian dari masyarakat Sasak.
