Ekonomi

Seaplane Batujai Jadi Langkah Strategis NTB Perkuat Konektivitas Kepulauan dan Pariwisata Berkualitas

84 kali dibaca

Mataram (28/2) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat terus memperkuat konektivitas wilayah kepulauan melalui pengembangan layanan pesawat amfibi atau seaplane.

Langkah ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman pengembangan layanan seaplane pada 28 Februari 2026 antara Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Bupati Lombok Tengah Lalu Fathul Bahri, dan PT Abadi Mega Angkutan.

Penandatanganan tersebut turut disaksikan Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi. Kesepakatan ini dinilai menjadi langkah awal membangun arsitektur konektivitas kepulauan di NTB.

Selain membuka peluang rute wisata baru, kebijakan ini juga memperkuat strategi pembangunan daerah yang menempatkan konektivitas, pariwisata berkualitas, dan ekonomi biru sebagai pilar daya saing.


Perkuat Konektivitas Wilayah Kepulauan

Sebagai provinsi kepulauan, NTB memiliki ratusan pulau kecil di kawasan Lombok dan Sumbawa. Potensi tersebut sangat besar, namun aksesibilitas masih menjadi tantangan utama.

Menurut Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, transportasi laut tetap penting, tetapi sering kali membutuhkan waktu tempuh yang panjang dan sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Karena itu, kehadiran seaplane dinilai mampu menghadirkan solusi transportasi yang lebih cepat dan efisien.

“Perjalanan antarpulau yang biasanya memakan waktu beberapa jam dapat dipangkas menjadi puluhan menit,” ujarnya.

Dengan demikian, transportasi udara berbasis air dipandang bukan sekadar fasilitas wisata premium, tetapi juga kebutuhan logis bagi wilayah kepulauan seperti NTB.


Batujai Dipilih Berdasarkan Pertimbangan Teknis

Pengembangan waterbase seaplane direncanakan berlokasi di Bendungan Batujai, yang berada tidak jauh dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM).

Lokasi tersebut dipilih melalui berbagai pertimbangan teknis, terutama terkait integrasi sistem navigasi dan keselamatan penerbangan.

Kedekatan dengan bandara internasional memberikan sejumlah keunggulan, antara lain:

  • Integrasi sistem Air Traffic Control (ATC) sehingga pengawasan ruang udara berada dalam satu klaster kendali.
  • Efisiensi radius navigasi karena dekat dengan infrastruktur utama penerbangan.
  • Penghematan biaya pembangunan karena fasilitas tidak perlu dibuat terpisah.
  • Respons darurat yang lebih cepat karena berada dalam ekosistem bandara internasional.

Dengan pertimbangan tersebut, Batujai dinilai memenuhi standar keselamatan dan logika pengembangan penerbangan.


Pengembangan Dilakukan Bertahap

Pemerintah juga menyiapkan roadmap pengembangan seaplane secara bertahap dan terukur.

Tahapan tersebut meliputi penataan waterbase sesuai standar keselamatan penerbangan, sinkronisasi perizinan operasional, hingga pembangunan fasilitas ramah lingkungan.

Selain itu, uji coba operasional juga akan dilakukan sebelum ekspansi rute penerbangan.

Koordinasi dengan pengelola bendungan terus dilakukan untuk memastikan operasional seaplane tidak mengganggu fungsi utama bendungan sebagai infrastruktur pengairan.


Dorong Pariwisata Berkualitas

Dari sisi ekonomi, pengembangan seaplane mendukung strategi low volume–high value tourism, yaitu meningkatkan nilai ekonomi dari setiap kunjungan wisatawan.

Melalui konsep tersebut, manfaat ekonomi diharapkan tidak hanya dirasakan oleh operator penerbangan, tetapi juga masyarakat lokal.

Dampak yang diproyeksikan antara lain:

  • Pemerataan kunjungan wisata ke pulau-pulau kecil
  • Peningkatan okupansi homestay dan eco-resort
  • Pertumbuhan UMKM pesisir
  • Peningkatan pendapatan daerah dari sektor pariwisata

Dalam jangka panjang, konektivitas cepat ini juga berpotensi mendorong investasi resort pulau kecil serta memperluas pasar wisata berbasis konservasi.


Dukung Ekonomi Biru dan Konektivitas Regional

Selain sektor pariwisata, pengembangan seaplane juga memiliki implikasi lintas sektor.

Konektivitas udara-air ini diharapkan mampu memperkuat ekonomi biru, mempercepat mobilitas pelaku usaha dan investor, serta membuka akses layanan medis darurat dari pulau terpencil.

Di sisi lain, konektivitas tersebut juga berpotensi memperkuat jejaring kawasan pariwisata regional antara Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Dengan demikian, seaplane dipandang sebagai simpul integrasi kebijakan yang menghubungkan sektor pariwisata, investasi, perikanan, hingga pembangunan berkelanjutan.


Awal Transformasi Pembangunan Kepulauan NTB

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa pengembangan seaplane merupakan bagian dari transformasi NTB menuju provinsi kepulauan yang terhubung dan berdaya saing.

Menurutnya, kebijakan ini tidak hanya membuka akses ke ratusan pulau kecil, tetapi juga memperkuat posisi NTB dalam peta pariwisata nasional dan regional.

“Seaplane Batujai bukan akhir, melainkan awal dari langkah strategis NTB untuk mengelola potensi kepulauan secara cerdas dan berkelanjutan,” ujarnya.

Jika dijalankan secara konsisten, kebijakan ini diyakini dapat membuka babak baru pembangunan daerah yang lebih merata, modern, dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *