Ponpes Lentera Hati Lombok Barat Dukung Pembentukan Satgas Terpadu Pencegahan Kekerasan dan Bullying di Pesantren NTB
Lombok Barat (11/6) – Pondok Pesantren (Ponpes) Lentera Hati Lombok Barat menyatakan dukungan penuh terhadap rencana pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Terpadu Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Pesantren di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Pimpinan Ponpes Lentera Hati, Dr. Muazar Habibi, menilai keberadaan satgas tersebut merupakan langkah strategis dalam memperkuat perlindungan santri sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari praktik perundungan atau bullying.
“Pembentukan Satgas Terpadu sangat dibutuhkan oleh seluruh pesantren. Selain menjadi instrumen pengawasan, satgas juga dapat menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan berbagai tindakan negatif yang berpotensi terjadi di lingkungan pesantren,” ujar Muazar Habibi yang akrab disapa Abah.
Reformasi Tata Kelola Pesantren Ramah Anak di NTB
Menurut Abah, pembentukan Satgas Terpadu harus dibarengi dengan reformasi tata kelola pesantren yang lebih ramah anak dan berorientasi pada perlindungan santri.
Ia menilai perbaikan sistem pengelolaan pesantren di NTB perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah agar berbagai persoalan yang selama ini terjadi tidak terus berulang.
“Reformasi tata kelola pesantren sangat penting. Melalui berbagai media dan tulisan, saya telah menyampaikan masukan kepada Gubernur NTB agar pembenahan pesantren dapat dilakukan secara lebih efektif dan menyeluruh,” katanya.
Satgas Pesantren Jadi Bentuk Perlindungan dan Kepercayaan Orang Tua
Abah menegaskan bahwa keberadaan Satgas Terpadu bukan hanya berfungsi sebagai lembaga pengawasan, tetapi juga menjadi bentuk komitmen pesantren dalam menjaga kepercayaan orang tua yang telah menitipkan pendidikan anak-anak mereka.
“Orang tua mempercayakan anaknya kepada pesantren. Karena itu, kami memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keamanan, kenyamanan, dan perkembangan karakter santri. Satgas Terpadu menjadi bagian penting dari upaya tersebut,” jelasnya.
Ponpes Lentera Hati Terapkan SOP Penanganan Konflik Santri
Sebagai upaya pencegahan dan penanganan masalah internal, Ponpes Lentera Hati Lombok Barat telah menerapkan sistem penanganan berbasis Standar Operasional Prosedur (SOP) yang melibatkan pimpinan pondok, kepala kepengasuhan, serta bagian kesiswaan.
Setiap persoalan yang terjadi di antara santri diselesaikan melalui musyawarah terbuka dengan melibatkan orang tua melalui fasilitas video call sehingga proses penyelesaian dapat berlangsung secara objektif, transparan, dan adil.
“Jika terjadi persoalan antar santri, kedua pihak dipanggil bersama. Orang tua juga ikut menyaksikan melalui video call dan seluruh pihak terkait hadir dalam proses penyelesaian,” ujarnya.
Pembinaan Karakter Jadi Prioritas, Tanpa Hukuman Fisik
Dalam proses pembinaan, Ponpes Lentera Hati lebih mengedepankan pendekatan edukatif dan penguatan karakter dibandingkan penerapan hukuman fisik.
Santri yang melakukan pelanggaran diberikan sanksi yang bersifat positif dan mendidik, seperti menambah hafalan Al-Qur’an, membaca Surat Yasin, atau mengikuti kegiatan kebersihan lingkungan pesantren.
“Pembinaan karakter menjadi prioritas agar santri memahami kesalahan yang dilakukan dan tidak mengulanginya kembali. Kami tidak menerapkan hukuman fisik,” tegas Abah.
Pencegahan Bullying di Pesantren Dilakukan Secara Berkelanjutan
Meski demikian, Abah mengakui bahwa tantangan terbesar dalam dunia pendidikan pesantren adalah membangun kesadaran santri agar tidak melakukan tindakan bullying atau perundungan terhadap sesama.
Menurutnya, pembinaan karakter harus dilakukan secara konsisten karena perilaku negatif dapat muncul kembali meskipun santri telah diberikan pemahaman.
“Anak-anak berada pada usia yang masih labil. Setelah diberi pemahaman, terkadang perilaku negatif bisa muncul kembali. Karena itu, pembinaan karakter harus dilakukan secara berkelanjutan,” katanya.
Orsila Jadi Garda Terdepan Pengawasan dan Pencegahan Bullying
Sebagai langkah preventif, Ponpes Lentera Hati rutin menggelar sosialisasi dan pembinaan karakter setiap hari, termasuk setelah pelaksanaan salat Ashar berjamaah.
Selain itu, Organisasi Santri Lentera Hati (Orsila) diberikan peran strategis untuk membantu pengawasan, pembinaan, serta mengarahkan santri agar menjauhi tindakan bullying dan berbagai perilaku negatif lainnya.
“Orsila menjadi garda terdepan dalam memberikan teladan sekaligus mengingatkan teman-temannya untuk tidak melakukan bullying maupun tindakan negatif lainnya. Mereka memiliki tanggung jawab besar dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren,” pungkasnya.
