Pendidikan

Desa Cendi Manik Kembangkan Paket Wisata Baru: Budidaya-Kuliner Kepiting Bakau dan Birdwatching

334 kali dibaca

Lombok Barat – Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bagek Kembar Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, berpartisipasi aktif dalam rangkaian pelatihan ekowisata mangrove yang diselenggarakan oleh tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Mataram. Kegiatan ini merupakan bagian dari program “PKM Kelompok Sadar Konservasi Mangrove Melalui Pelatihan Ekowisata di Desa Cendi Manik” yang didukung pendanaan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) tahun 2025.

Pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola potensi kawasan mangrove secara profesional dan berkelanjutan. Melalui kegiatan tersebut, lahirlah inovasi berupa pengembangan paket wisata baru yang memadukan aspek konservasi dengan nilai ekonomi, yaitu budidaya dan kuliner kepiting bakau serta wisata pengamatan burung (birdwatching). Kedua paket wisata ini dipandang strategis karena mampu menjawab kebutuhan ganda: meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian ekosistem mangrove yang memiliki luas 307 hektar.

Ketua tim PKM, Prof. Dr. Abdul Syukur, M.Si., menekankan signifikansi dari inovasi ini. Menurutnya, budidaya kepiting bakau yang dikembangkan dengan teknologi Rumah Kepiting (Crabball) tidak hanya bermanfaat sebagai alternatif sumber ekonomi masyarakat, tetapi juga memiliki nilai tambah sebagai atraksi wisata edukatif. Wisatawan tidak hanya dapat menyaksikan proses budidaya secara langsung, melainkan juga menikmati berbagai olahan kuliner berbahan dasar kepiting hasil panen masyarakat, seperti kepiting saus tiram dan kepiting asam manis. “Dengan integrasi antara budidaya dan kuliner, pengunjung memperoleh pengalaman wisata yang lebih komprehensif, mulai dari proses produksi hingga menikmati hasilnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa potensi birdwatching di kawasan mangrove Cendi Manik memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Kawasan ini merupakan habitat transit bagi lebih dari 60 spesies burung, termasuk burung migran internasional. Dengan mengemasnya sebagai atraksi wisata edukatif, masyarakat tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga turut membangun kesadaran ekologis bagi wisatawan tentang pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *